Senin, 30 Juni 2025

Air Terjun Proklamator Tempat Wisata Alam yang Masih Terjaga

Sumbarescapes - Tak jauh dari jalan lintas Padang–Bukittinggi, tersembunyi sebuah permata alam yang belum banyak tersentuh, Air Terjun Proklamator. Lokasinya berada di wilayah Kanagarian Singgalang, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Bila berangkat dari Kota Padang, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 1,5 jam dalam kondisi lalu lintas lancar, dengan posisi air terjun di sebelah kiri jalan. 

Sementara dari Kota Padang Panjang, waktu tempuh hanya sekitar 30 menit, dan lokasinya berada di sebelah kanan jalan.

Namun perlu dicatat, jalur ini rawan padat, terutama saat akhir pekan atau libur panjang. Waktu keberangkatan yang tepat akan menentukan kenyamanan perjalanan.

Asal Usul Nama yang Sarat Makna

Air terjun ini ditemukan oleh mahasiswa Universitas Bung Hatta, tepatnya oleh UKM Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Proklamator, pada sekitar tahun 2016. Saat itu, mereka tengah mengadakan kegiatan pendidikan dasar sekaligus membuka jalur pendakian Gunung Tandikek via Mega Mendung. Dalam proses itu, mereka menemukan tiga air terjun, salah satunya adalah yang kini dikenal sebagai Air Terjun Proklamator. Nama “Proklamator” disematkan sebagai penghargaan sekaligus pengingat akan proses penemuan tersebut.

Barulah pada tahun 2020, destinasi ini mulai dibuka untuk umum dan perlahan dikenal sebagai tempat wisata alam yang menjanjikan di Sumatera Barat.

Trekking Menyusuri Jalur Alam

Untuk tiket masuk Rp10.000, pengunjung akan memulai perjalanan dengan trekking sejauh kurang lebih 30–45 menit. Jalurnya berupa jalan tanah setapak yang menurun dan menanjak, melalui hutan tropis yang sejuk namun licin di musim hujan. Di sepanjang jalur tersedia dua posko kecil: satu berada di awal jalur masuk, dan satu lagi di pertengahan perjalanan sebagai tempat istirahat.

Jalur ini cukup aman untuk pemula, asalkan menggunakan alas kaki yang sesuai dan membawa perbekalan pribadi.

Pesona yang Menyegarkan

Air terjun ini memiliki dua aliran utama yang jatuh dari tebing berketinggian 15–20 meter. Airnya bening, segar, dan bewarna biru. Kolam di bawahnya bisa dimanfaatkan untuk bermain air atau bersantai. Suasana sekitar benar-benar tenang, dengan pepohonan tinggi dan suara air yang menenangkan. Tempat ini cocok bagi mereka yang ingin melepaskan penat dari kesibukan kota.

Bawa Perbekalan Sendiri dan Jaga Etika Alam

Karena lokasi ini masih alami dan belum memiliki fasilitas lengkap, sebaiknya membawa bekal sendiri seperti air minum, makanan ringan, dan mungkin makan siang. Untuk keperluan buang air, penting untuk menjaga etika: permisi secara lisan, pilih tempat yang tidak mengganggu, dan jangan tinggalkan sampah.

Destinasi Sederhana dengan Daya Tarik Nyata

Air Terjun Proklamator bukan sekadar tempat berlibur, tapi pengalaman menyatu dengan alam yang sesungguhnya. Medan yang menantang tapi masih ramah, ditambah suasana yang tenang dan pemandangan air terjun yang masih alami, menjadikannya cocok bagi siapa saja yang ingin mencoba wisata alam tanpa harus jauh atau repot. Tempat ini memberi kesan tersendiri—bukan karena kemewahannya, tapi karena kesederhanaan dan ketulusannya sebagai bagian dari alam yang masih murni.

Penulis: Devita Rahma (Mahasiswa Prodi KPI)

Minggu, 29 Juni 2025

Panorama Baru Bukittinggi: Bukti Cinta Alam yang Tumbuh dari Akar

 


Warga Taman Wisata Panorama Baru di Bukittinggi, bukan sekadar ruang terbuka hijau. Ia adalah, napas segar dari sebuah kota yang selama ini dikenal lewat ikon-ikon besar seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, dan Lobang Jepang. Kehadiran di tengah dominasi pariwisata mainstream itu, Panorama Baru hadir sebagai alternatif yang lebih tenang, lebih alami, dan justru lebih membumi.

Dengan harga tiket masuk hanya Rp5.000, wisatawan bisa menikmati bentang alam menakjubkan: lekuk-lekuk Ngarai Sianok yang menganga megah. Gunung Singgalang yang berdiri gagah, serta kabut pagi yang perlahan-lahan naik seperti selimut putih yang menyapa Bukittinggi dari kejauhan. Sensasi ini sulit di dapat ketika berada di keramaian kota, tapi pada tempat yang bahkan dikelola secara swadaya oleh masyarakat lokal.

Untuk itu disinilah letak keistimewaannya. Panorama Baru adalah potret semangat warga yang ingin merawat dan membagikan keindahan kampung halamannya. Mereka tak menunggu dana besar atau investor luar. Mereka membuka jalan sendiri, menyediakan tempat duduk, menjaga kebersihan, hingga menghadirkan sentuhan budaya lokal seperti alunan saluang yang kadang terdengar menemani matahari terbenam.

Tentu, ada tantangan. Sebagai kawasan wisata baru, pengelolaannya masih jauh dari sempurna. Tempat parkir, toilet, bahkan papan informasi masih bisa dikembangkan lebih baik. Tapi justru di situ tantangannya: bagaimana mempertahankan keseimbangan antara kenyamanan pengunjung dan kelestarian alam. Jangan sampai, saat wisatawan membanjiri tempat ini, ketulusan dan kesederhanaannya justru luntur.

Panorama Baru bukan sekadar tempat untuk berfoto. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat yang mengajak kita diam sejenak, menarik napas panjang, dan menyadari bahwa keindahan itu tak selalu harus mewah. Cukup hadir dengan rasa syukur dan rasa hormat terhadap alam.

Sebagai warga Sumatera Barat, saya merasa bangga bahwa semangat menjaga dan mempromosikan keindahan lokal masih tumbuh, bahkan dari tangan-tangan sederhana. Panorama Baru adalah bukti nyata bahwa pariwisata tak selalu harus dimulai dari atas. Ia bisa berakar dari bawah—dari warga yang mencintai tanahnya, lalu mengajak orang lain ikut melihat dan menjaganya.

Penulis: Winda Nurchairani (Mahasiswa KPI UIN IB Padang)

Ketenangan dibawah hiruk pikuk Kehidupan Mahasiswa


Kasawan Wisata Sungai Bangek merupakan destinasi wisata yang berbasis sungai. Sesuai dengan nama yang diberikan lokasinya berada di kawasan hulu sungai bangek, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Sumatra Barat.

Untuk masuk wisata sungai ini hanya membayar lima ribu, sama parkir kita sudah bisa masuk sepuasnya dan sungai bangek menjadi destinasi baru bagi pencinta alam dan petualangan. 

Sungai bangek ini memiliki suasana yang sangat alami, dengan air yang jernih yang kehijauan. Bebatuan besar serta suasana yang tenang, nan jauh dari kebisingan dan senang untuk dinikmati. 

Menurut warga setempat, Sungai Bangek, dahulunya sering dikunjungi hanya penduduk lokal. Dengan adanya perpindahan kampus baru universitas UIN IB yang terletak di perbukitan Sungai Bangek banyak mahasiswa yang mengunjungi sungai-sungai yang ada disini, setelah mereka melaksanakan aktivitas perkuliahan. Tidak  hanya  mahasiswa saja namun banyak juga masyarakat sekitaran kota padang mengunjungi sungai bangek.

Salah satu pengunjung Diki menyampaikan bahwa wisata sungai bangek harus di lestarikan, agar kedepannya banyak masyarakat yang berkunjung tidak hanya mahasiswa saja namun, lanjutannya wisata sungai bangek ini harus dikunjungi oleh masyarakat di luar kota Padang karna tiket masuk wisata ini sangat murah.

Sungai bangek adalah salah satu bukti bahwa kota Padang tidak hanya mempunyai pantai yang indah,tapi juga mempunyai sungai yang indah untuk dinikmati oleh pengunjung.

Penulis : Hamdani ( Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam )

KEINDAHAN DAN KEHANGATAN MALAM DI BAWAH BAYANG JAM GADANG


Sumbarescapes- Jam Gadang bukan hanya sekadar menara jam, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan menjadi pusat aktivitas warga serta wisatawan. Jam Gadang sendiri dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1926, dan hingga kini tetap berdiri kokoh sebagai saksi sejarah panjang Kota Bukittinggi. Menara ini juga menjadi penanda waktu dan pusat orientasi kota, sehingga hampir semua orang yang berkunjung ke Bukittinggi pasti menyempatkan diri untuk berfoto atau sekadar menikmati keindahan Jam Gadang.

Pada malam hari, pencahayaan warna-warni yang menghiasi menara ini membuatnya tampak semakin menawan dan megah. Lampu-lampu yang dipasang di sekitar menara memberikan nuansa modern tanpa menghilangkan kesan tradisional. Ini adalah perpaduan yang sangat indah antara warisan budaya dan sentuhan teknologi masa kini.

Suasana malam hari di sekitar Jam Gadang terlihat sangat indah. Banyak orang berkumpul di alun-alun, baik itu keluarga, pasangan muda-mudi, maupun wisatawan dari luar daerah. Mereka tampak menikmati suasana malam, berbincang, bersantai, bahkan ada yang membeli balon atau jajanan dari pedagang kaki lima yang berjejer di sekitar area. Kehadiran keramaian ini menunjukkan bahwa Jam Gadang bukan hanya objek wisata, tetapi juga ruang publik yang sangat penting bagi masyarakat.

Bukan sekadar tempat untuk kunjungan semata, tapi sering menjadi titik kumpul masyarakat untuk berbagai kegiatan, mulai dari perayaan hari besar, pertunjukan seni, hingga aksi sosial. Lokasi di sekitar Jam Gadang, sering diadakan festival, bazar, dan acara kebudayaan yang melibatkan masyarakat lokal. Hal ini memperkuat rasa kebersamaan dan identitas sebagai orang Minangkabau.

Tidak bisa dipungkiri, Jam Gadang adalah magnet utama pariwisata di Bukittinggi. Setiap hari, terutama saat musim liburan, ribuan wisatawan datang untuk melihat dan berfoto di depan menara ini. Kehadiran wisatawan tentu membawa dampak positif bagi ekonomi lokal. Pedagang kaki lima, penjual makanan, penyedia jasa foto, dan pengrajin ole-ole, semuanya mendapatkan manfaat dari ramainya pengunjung dengan, suasana yang tampak aman dan nyaman. Penataan area publik yang baik, penerangan yang cukup, Jam Gadang ini tempat bersejarah yang tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat modern, tanpa kehilangan jati diri budayanya. Perpaduan antara keindahan arsitektur, suasana malam yang hidup, nilai sosial-budaya, serta manfaat ekonomi menjadi kekuatan utama kawasan ini.


Penulis: Masna Sari Siregar (Mahasiswa KPI UIN Imam Bonjol Padang)

Keindahan Tersembunyi di Ulu Gaduik, Kota Padang: Sarasah Gaduik Menjadi Destinasi Wisata Alam yang Memikat

 


Padang, Sumatera Barat — Di tengah perbukitan hijau dan udara sejuk kawasan Ulu Gaduik, Kota Padang, tersembunyi sebuah surga alam yang mulai mencuri perhatian para pecinta wisata alam, yakni Sarasah Gaduik. Air terjun yang masih alami ini menjadi salah satu destinasi eksotis yang kini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama di akhir pekan.

Sarasah Gaduik menawarkan pemandangan yang memikat mata: air terjun bertingkat yang mengalir deras dari celah-celah tebing batu, dikelilingi rimbunnya pepohonan dan suara alam yang menenangkan. Jarak tempuh menuju lokasi ini membutuhkan sedikit usaha fisik, karena pengunjung harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 1,5 kilometer melalui jalan setapak yang masih alami. Namun, semua lelah akan terbayar lunas saat sampai di lokasi.

Menurut keterangan warga setempat, Sarasah Gaduik telah lama dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat mandi dan bersantai, namun baru beberapa tahun belakangan mulai dikenal luas. Pemerintah Kota Padang pun mulai melirik potensi wisata alam ini untuk dikembangkan secara lebih serius dengan tetap menjaga kelestarian lingkungannya.

“Tempat ini masih alami dan belum banyak tersentuh modernisasi. Kami berharap tetap bisa mempertahankannya sebagai wisata berbasis alam tanpa merusak lingkungan,” ujar Rahmat, salah seorang pemuda Ulu Gaduik yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat.

Selain menawarkan pemandangan indah dan udara segar, Sarasah Gaduik juga menjadi tempat favorit untuk berfoto, berkemah, bahkan kegiatan edukasi lingkungan. Para pengunjung diimbau untuk tetap menjaga kebersihan dan tidak merusak ekosistem sekitar.

Dengan keindahan dan keasliannya, Sarasah Gaduik berpotensi menjadi salah satu ikon wisata baru di Kota Padang. Diharapkan, perhatian pemerintah dan kesadaran wisatawan dapat bersinergi dalam menjaga kelestarian alam yang menawan ini.


Penulis : Abdul Khalil Fajri ( Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam )

Nikel Menyusup di Surga Raja Ampat

Raja Ampat. Nama yang bergema bak syair keajaiban, merupakan gugusan pulau di Papua Barat Daya, penjaga harta karun alam yang tak ternilai. Lebih dari 75% spesies karang dunia, bersama ribuan spesies ikan, menari-nari dalam simfoni warna di bawah lautnya yang jernih. Keindahan Raja Ampat, yang telah diakui dunia sebagai destinasi wisata kelas dunia dan kawasan konservasi prioritas nasional, bukan hanya sekadar panorama; ia adalah jantung Segitiga Terumbu Karang, pusat keanekaragaman hayati yang krusial bagi keseimbangan ekosistem global. Namun, bayang-bayang gelap ketamakan manusia mulai menyelimuti surga ini. 

Proyek pertambangan nikel, didorong oleh permintaan global akan baterai kendaraan listrik, mengancam untuk menghancurkan keindahan ini secara perlahan namun pasti. Laporan-laporan dari berbagai lembaga lingkungan, seperti Greenpeace dan Auriga Nusantara, mengungkap bukti nyata kerusakan lingkungan yang telah terjadi: deforestasi lebih dari 500 hektar hutan, sedimentasi yang mengubur terumbu karang, dan pencemaran logam berat yang membahayakan biota laut dan kesehatan manusia. Kerugian ekonomi jangka panjang akibat kerusakan lingkungan ini jauh melampaui keuntungan sesaat dari pertambangan nikel. Nilai ekonomi pariwisata Raja Ampat, yang jauh lebih besar dan berkelanjutan, tampak diabaikan dalam perhitungan ekonomi yang sempit dan rakus.

Ketamakan Berbalut Dalih Pembangunan

Akar permasalahan ini adalah ketamakan yang berkedok pembangunan ekonomi. Upaya mengejar pertumbuhan ekonomi yang cepat dan serakah telah membutakan kita terhadap nilai sejati Raja Ampat. Permintaan global akan nikel telah menjadi pemantik utama ekspansi tambang, tanpa memperhitungkan konsekuensi jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat lokal. Kurangnya regulasi yang kuat, lemahnya penegakan hukum, dan transparansi yang minim dalam proses pengambilan keputusan semakin memperparah situasi. Prioritas yang salah ditempatkan: keuntungan ekonomi jangka pendek di atas keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah cerminan dari kegagalan sistem dalam menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian alam. Kegagalan dalam memahami bahwa keindahan Raja Ampat, sebagai aset global, jauh lebih berharga daripada nikel yang terpendam di bawahnya.

Dampak Devastasi yang Tak Terhindarkan

Bayangkan air laut yang jernih berubah menjadi keruh, terumbu karang yang berwarna-warni menjadi abu-abu dan mati. Itulah gambaran mengerikan yang ditimbulkan oleh pertambangan nikel di Raja Ampat. Logam berat yang mencemari perairan akan membunuh biota laut, merusak rantai makanan, dan menghancurkan ekosistem yang telah berjuta tahun terbentuk. Sedimentasi akan mengubur terumbu karang, habitat bagi ribuan spesies. Kerusakan mangrove, benteng alamiah pantai, akan memperparah abrasi dan mengancam kehidupan pesisir. Suara bising dari aktivitas penambangan akan mengganggu kehidupan satwa laut, khususnya mamalia laut yang sangat sensitif terhadap suara. Bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga hilangnya identitas budaya masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada laut. Pariwisata berkelanjutan, sumber penghidupan dan kebanggaan mereka, akan runtuh dan hancur. Pulau-pulau kecil seperti Gag, Kawe, dan Manuran, yang seharusnya dilindungi, justru menjadi sasaran eksploitasi. Bahkan Pulau Gag, yang berada di luar zona geopark, masih menjadi lokasi operasi tambang, menunjukkan betapa lemahnya penegakan hukum dan regulasi.

Memilih Antara Kehancuran dan Keberlanjutan

Raja Ampat bukanlah sekadar tempat wisata; ini adalah warisan dunia yang tak ternilai harganya. Keindahannya adalah aset global, bukan hanya milik Indonesia. Menghancurkannya demi keuntungan ekonomi jangka pendek adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak berkelanjutan. Kita harus berani berkata "tidak" pada proyek-proyek yang mengancam kelestarian lingkungan, dan memilih jalan pembangunan yang berkelanjutan. Pariwisata yang bijak, yang menghormati alam dan masyarakat lokal, adalah jalan yang jauh lebih baik dan berkelanjutan. Investasi dalam pariwisata berkelanjutan akan memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar dan berkelanjutan dibandingkan dengan tambang nikel yang merusak. Kita harus berani menolak ketamakan dan memilih kebijaksanaan.

Langkah Nyata untuk Melindungi Surga

Pemerintah harus segera menghentikan rencana tambang nikel di Raja Ampat. Kajian lingkungan hidup yang komprehensif dan transparan, melibatkan pakar internasional, harus dilakukan. Regulasi yang ketat dan penegakan hukum yang tegas harus diterapkan. Investasi besar-besaran dalam pariwisata berkelanjutan, yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal, harus dilakukan. Kerjasama internasional untuk melindungi Raja Ampat harus dijalin. Kita perlu mengubah paradigma pembangunan, mengutamakan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat jangka panjang. Pentingnya melibatkan masyarakat adat dan menghormati kearifan lokal, seperti sistem sasi laut, harus diprioritaskan.

Di Ujung Tanduk, Memilih Masa Depan Raja Ampat

Raja Ampat berada di ujung tanduk. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan nasibnya di masa depan. Kita harus memilih antara keuntungan ekonomi jangka pendek dan pelestarian warisan alam yang tak ternilai harganya. Mari kita prioritaskan keberlanjutan, lindungi Raja Ampat, dan wariskan keindahannya kepada generasi mendatang. Jangan biarkan ketamakan mengalahkan kebijaksanaan.

Bersatu untuk Melindungi Warisan Dunia

Suara kita adalah kekuatan. Mari kita bersatu, menolak proyek tambang nikel, mendukung pariwisata berkelanjutan, dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Lindungi Raja Ampat, lindungi warisan dunia kita. Selamatkan nirwana sebelum lenyap ditelan ketamakan. Mari kita jaga keindahan Raja Ampat untuk generasi mendatang. Jangan sampai keindahan ini hanya menjadi cerita dalam buku sejarah.

Penulis: Muhammad Ziqri Ramadhan (Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)

Anailand Wisata Alam di Kaki Gunung Tandikek

 


(Sumber foto: DempoAnailand.com)


Sumbarescapes- Memasuki musim libur akhir semester genap tahun 2025, menjadi momentum berharga untuk pelajar, mahasiswa maupun keluarga. Menepi sejenak dari rutinitas sehari-hari tentu penting dilakukan agar tubuh dan pikiran beristirahat. Untuk itu, sobat sumbarescapes bisa menghabiskan waktu dengan liburan sesuai preferensi pribadi maupun minat masing-masing.
Nah, kawasan rekreasi yang satu ini menjadi rekomendasi, karena dikenal menghadirkan tempat camping, penginapan yang identik dengan arsitektur rumah panggung modren, serta pemandian alami terbaik. Anailand, wisata alam menarik di lereng gunung Tandikek, puncak Anai berada di ketinggian 600-700 mdpl. Berlokasi di Jalan Padang - Bukittinggi Km. 60, Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. 

Puncak Anai merupakan suatu kawasan resort yang menggabungkan keindahan alami dan keindahan lokasi hasil karya manusia. Kehadiran taman-taman tertata asri dan rapi, serta hamparan padang rumput yang luas, sehingga menyejukkan mata yang memandang.




Selain menjadi objek wisata, Anai juga dipergunakan bagi masyarakat untuk daya tarik tersendiri, karna masih terjaga dan jauh dari kebisingan lalu lintas, menjadikan Puncak Anai sebagai lokasi wisata bergaya Eropa.

Hal ini dapat dilihat sepanjang jalan menuju lokasi Puncak Anai, rumah-rumah yang sebagian juga bergaya Kolonial dengan dikelilingi rumput hijau dan bunga-bunga tumbuh mekar seolah-olah berada di Eropa sungguhan. Rumah itu disuguhkan untuk para pengunjung yang menginap dan menikmati suasana alam Puncak Anai lebih lama. Penginapan yang diterapkan berbasis syari'ah, bisa mengajak keluarga serumah tentu harganya tidak melebihi kantong pengunjung, sebelum booking bisa hubungi pihak home stay terkait rumah dan kamar yang akan dijadikan tempat istirahat sesuai waktu kunjungan.

Menginap di villa dan cottage ini dengan  masing villa memiliki ruang kamar dengan ukuran bervariasi, tempat duduk, ruang makan, dapur, carport dan teras dengan pemandangan yang sangat indah di sekeliling villa. Tidak ada AC di sini karena, hawa di wilayah ini juga dingin dan sejuk, untuk malam bisa mencapai 16-18 derajat Celcius. Setiap kamar juga dilengkapi TV dan water heater. Ada berbagai type kamar yang disediakan kisaran harga dari Rp 800.000 sampai Rp 2.100.000 per type tergantung banyak kamar yang diambil di villa tersebut.

Sesuai dengan namanya Puncak, hawa yang sejuk langsung menyambut kita ketika memasuki gerbang utama, yang berada di sebelah kiri jalan dari arah Padang. Setiap perjalanan menuju penginapan harus  melewati 3 pos keamanan. Hal ini juga memperlihatkan bahwasanya keamanan dijaga dengan ketat, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Sekeliling Puncak Anai kita bisa menyaksikan hutan alam, di mana pohon-pohon alami masih tampak menjulang tinggi, dan masih termasuk kawasan cagar alam Lembah Anai.

Berbagai sarana yang disuguhkan membuat para pengunjung merasakan suasana yang tenang. Selain penginapan, adapun sarana yang lain diantaranya. Kolam renang alami dengan air asli pegunungan sekitar yang sangat dingin dan menyegarkan. Serta kolam berenang ini lantainya bebatuan alami. Membuat pengunjung bisa melakukan terapi berjalan diatasnya.

Kemudian bermain perahu karet di danau buatan atau yang lebih dikenal Sky Bike. Tepat di atas danau buatan itu per pasang wahana foto Sky bike dengan panjang bentangan kawat sekitar 30 meter. Spot gembok cinta. Mungkin fasilitas ini boleh dicoba atau sekedar membayangkan kita berada di Pont des Arts nya Paris. Lokasi ini sendiri berada di pinggiran kolam besar yang ada air mancurnya. Lalu, yang tak kalah menarik ada Camping Ground bagi pencinta wisata alam di sini juga menyediakan lokasi berkemah yang dapat menampung banyak tenda.

Tapi, jika ingin melakukan camping harus diperhatikan karena daerah ini daerah perbukitan, sehingga sering terjadi hujan, jadi sangat tidak disarankan traveler berkemah tanpa terpal hujan atau pastikan dulu dengan melihat  kondisi cuaca. Jika sobat sumbarescapes hanya ingin berenang dan berkeliling dilokasi Anailand saja tanpa menginap, sobat bisa masuk dengan karcis seharga 15.000/ orang.

Berbagai sarana yang di hadirkan dan kombinasi nuansa alam yang khas membuat pengunjung merasakan suasana yang tenang dan nyaman. Tak salah bila Anailand menjadi salah satu objek wisata yang ramai di kunjungi ketika weekend dan hari libur panjang semester. 

Penulis: Sofi Asri 


Senin, 23 Juni 2025

ROMANTISASI VILLA RUMAH KAYU, DENYUT NADI LUBUK MINTURUN

(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Sumbarescapes- Keindahannya yang dkelilingi oleh hijaunya pepohonan dan udara pegunungan yang sejuk, Villa Rumah Kayu. Berlokasi di kawasan perbukitan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, dan berjarak sekitar 30 menit dari kota Padang. Villa ini menjadi magnet baru bagi wisatawan yang mendambakan ketenangan dan keindahan alam. Resmi dibuka pada Januari 2024 lalu, Villa Rumah Kayu ini seketika menyita perhatian publik, lantaran dalam beberapa bulan terakhir jumlah wisatawan meningkat secara signifikan, terutama pada akhir pekan dan libur panjang. 

Villa Rumah Kayu, merupakan sebuah penginapan bernuansa tradisional yang di dominasi dari bahan material kayu alami. Selain sebagai destinasi wisata yang menarik, villa ini juga berfungsi sebagai tempat beristirahat, liburan akhir pekan bersama keluarga, hingga pelaksanaan kegiatan outbound sekolah. Villa Rumah Kayu ini di nobatkan sebagai salah satu villa terbaik yang ada di Kota Padang. Hal ini tak lepas dari desainnya yang unik serta suasana tempat yang sejuk dan asri menambah kesan ingin berlama-lama berada disana. Banyak wisatawan memilih tempat ini karena, ingin menikmati suasana alam yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Terletak di kawasan perbukitan Lubuk. Lokasinya berdekatan dengan objek wisata seperti Air Terjun Lubuk Hitam dan Pemandian Lubuk Minturun. Villa ini dikelola baik oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang bekerja sama dengan masyarakat setempat dan didukung oleh Dinas Pariwisata Kota Padang, serta melibatkan UMKM lokal dalam penyediaan makanan dan kerajinan.


Tak hanya menjadi tempat penginapan, villa Rumah Kayu, juga dapat menjadi wadah pengembangan karakter siswa ketika hendak melakukan kegiatan outbound sekolah. SMAIT Dar el-Iman Padang misalnya. Sekolah ini mengadakan acara "Rihlah Bersama" di villa Rumah Kayu pada Selasa, (17/6/2025). Acara ini dihadiri puluhan siswi kelas 10 dan 11 yang didampingi langsung oleh dua guru wali kelas perempuan. Rangkaian acara terdiri dari explore villa, games seru, mengadakan halaqah Al-Qur'an, hingga membakar jagung pada malam puncak acara. Seluruh aktivitas dilakukan dengan baik dan terstruktur. Salah satu alasan mengapa tempat ini menjadi tempat pilihan pihak sekolah, yakni karena tempat yang strategis dan tidak begitu jauh dari pusat kota. Sehingga, aman untuk melakukan kegiatan outbound, menimbang kami semua perempuan dan tidak diperkenankan untuk mengadakan acara di luar Kota Padang. Selain itu, suasana yang sejuk dan damai membuat kesan nyaman dari pertama kali kami datang, " tutur guru yang mengampu mata pelajaran Biologi di SMAIT Dar el-Iman ini. 


Villa Rumah Kayu Lubuk Minturun, menjanjikan pesona alam yang romantis dan tentunya indah bagi wisatawan yang berkunjung. "Saya sekeluarga suka sekali dengan tempat ini. Karena suasananya tenang, cocok untuk melepas penat dari pekerjaan. Desain villa cantik, semuanya terbuat dari kayu, dan terasa adem walau tanpa AC. Saya dan anak-anak juga suka duduk di balkon sambil minum teh di pagi hari." ujar Rina (34) selaku salah satu wisatawan Villa Rumah Kayu, Lubuk Minturun. Ia juga menambahkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk mengabadikan foto, sebab pemandangannya indah dan Instagramable. Dengan demikian,  meromantisasi dentingan alam di Nadi Lubuk Minturun ini adalah momen khas untuk menciptakan kenangan yang tak terlupakan dan memperkuat ikatan emosional yang ada. 


Penulis: Erlin Eliora Garini, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Imam Bonjol Padang

Redaktur: Sofi Asri

Minggu, 15 Juni 2025

Denting Alam dalam Sajak Minang

Oleh: Erlin Eliora Garini ( Mahasiswa Semester 6 KPI)

Di sudut bibir pantai, ombak bersyair lirih

Menyampaikan salam dari samudera ke pepohonan 

Langit membentang biru bagaikan sajadah do'a 

Angin menyulam nyanyian di sela daun pandan yang bersahaja

Bukit-bukit menjelma sebagai perisai Memeluk pantai yang tenang dalam lengkung senja 

Di sela karang, rahasia laut bersembunyi Ada kehidupan yang tumbuh dalam hening yang abadi

Pulau-pulau kecil bagai serpih surga yang tersebar Pagang, Pasumpahan, hingga Mandeh memeluk dalam lembutnya teluk Di perairan jernih, perahu nelayan melukis garis takdir 

Dengan dayung yang tak sekadar mencari nafkah,Tetapi juga merawat pusaka dari arus yang terus berubah

Anak-anak berlarian di pasir yang hangat oleh matahari 

Setiap tawa menari di antara bayang cemara dan suara camar

 Sementara para ibu menjemur hasil laut di hamparan karung goni 

Serta doa-doa dilayarkan lewat mata yang bersinar penuh harap,

Kepada laut yang tak pernah menolak pulang

Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat

Engkau bukan hanya nama di dalam ukiran peta

 Engkau adalah puisi panjang yang ditulis alam dengan penuh cinta 

Dalam setiap karang, pasir, dan ombak yang setia 

Terpatri sejarah, adat, dan jiwa Minang yang tak pernah reda 

Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat

Pun engkau bukan sekadar tanah dan udara 

Tetapi napas jiwa, lukisan hangat yang hidup dalam setiap nadi anak rimba

Pesonamu abadi, tanah leluhur takkan terlupa

Di setiap sudut surgawi, indahnya sepanjang masa 

Oh, Ranah Minang, engkau bak puisi tak bertepi 

Sajak-sajakmu ditulis rapi di atas batu dan hati

Selamanya engkau harum dalam sanubari

Minggu, 01 Juni 2025

Pasar Kuliner Padang Panjang, Potensi Wisata Rasa Nasional



Sumber foto: Infopublik.id

Sumatera Barat tak hanya dikenal lewat pesona alam dan budayanya yang memikat, tetapi juga melalui ragam kuliner yang kaya akan cita rasa. Salah satu destinasi yang mencerminkan kekayaan rasa ini adalah Pasar Kuliner Padang Panjang, yang perlahan tapi pasti mulai menarik perhatian para pencinta kuliner, baik dari dalam maupun luar daerah.

Berlokasi di Lapangan Kantin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Balai-Balai, Kota Padang Panjang, tempat ini merupakan salah satu proyek kolaborasi antara Pemerintah Kota dan para pelaku UMKM. Daya tarik pasar kuliner ini bukan hanya pada keragaman menu, tetapi juga suasana yang hidup dan ramah. Dengan kapasitas menampung lebih dari 100 UMKM, pasar ini menjadi wadah ekonomi kreatif yang sangat potensial.

Jam operasionalnya dimulai sejak sore hingga dini hari, menjadikan pasar ini sebagai pusat keramaian di malam hari. Ini tentu menguntungkan wisatawan yang telah menghabiskan harinya menjelajah alam Sumatera Barat dan ingin bersantai sambil menikmati kuliner hangat dan lezat.

Berbagai jenis makanan tersedia di sini. Mulai dari makanan berat seperti nasi padang, soto padang, bakso, mie ayam, sate padang, hingga jajanan ringan seperti roti tenong—yang menjadi salah satu ikon pasar ini. Roti tenong adalah roti goreng yang disajikan dengan telur, lalu dilumuri cokelat dan susu kental manis. Tambahan topping pun bisa dipesan sesuai selera, menjadikannya kuliner favorit bagi pengunjung dari berbagai kalangan.

Minuman hangat seperti bandrek, sekoteng, teh talua, dan kopi sangat cocok dinikmati ketika berkunjung ke negri dingin Padang Panjang. Namun bagi yang menginginkan kesegaran, tersedia pula jus, es jeruk, es teh, es krim, hingga minuman kekinian lainnya.

Meskipun potensinya besar, pasar kuliner ini masih menghadapi tantangan yang perlu segera diatasi. Dari segi promosi, belum banyak wisatawan luar daerah yang mengetahui keberadaan pasar ini. Pemerintah daerah bersama pelaku UMKM perlu lebih giat memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti area parkir, kebersihan, dan fasilitas umum juga harus terus ditingkatkan demi kenyamanan pengunjung.

Dengan kekayaan kuliner dan dukungan masyarakatnya, Padang Panjang memiliki modal kuat untuk menjadikan pasar kulinernya sebagai ikon wisata gastronomi Sumatera Barat. Pengelolaan yang profesional dan promosi yang tepat akan membawa pasar kuliner ini ke panggung nasional, bahkan internasional.


Penulis     : Silvi Amelia

Redaktur : Sofi Asri