Warga Taman Wisata Panorama Baru di Bukittinggi, bukan sekadar ruang terbuka hijau. Ia adalah, napas segar dari sebuah kota yang selama ini dikenal lewat ikon-ikon besar seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, dan Lobang Jepang. Kehadiran di tengah dominasi pariwisata mainstream itu, Panorama Baru hadir sebagai alternatif yang lebih tenang, lebih alami, dan justru lebih membumi.
Dengan harga tiket masuk hanya Rp5.000, wisatawan bisa menikmati bentang alam menakjubkan: lekuk-lekuk Ngarai Sianok yang menganga megah. Gunung Singgalang yang berdiri gagah, serta kabut pagi yang perlahan-lahan naik seperti selimut putih yang menyapa Bukittinggi dari kejauhan. Sensasi ini sulit di dapat ketika berada di keramaian kota, tapi pada tempat yang bahkan dikelola secara swadaya oleh masyarakat lokal.
Untuk itu disinilah letak keistimewaannya. Panorama Baru adalah potret semangat warga yang ingin merawat dan membagikan keindahan kampung halamannya. Mereka tak menunggu dana besar atau investor luar. Mereka membuka jalan sendiri, menyediakan tempat duduk, menjaga kebersihan, hingga menghadirkan sentuhan budaya lokal seperti alunan saluang yang kadang terdengar menemani matahari terbenam.
Tentu, ada tantangan. Sebagai kawasan wisata baru, pengelolaannya masih jauh dari sempurna. Tempat parkir, toilet, bahkan papan informasi masih bisa dikembangkan lebih baik. Tapi justru di situ tantangannya: bagaimana mempertahankan keseimbangan antara kenyamanan pengunjung dan kelestarian alam. Jangan sampai, saat wisatawan membanjiri tempat ini, ketulusan dan kesederhanaannya justru luntur.
Panorama Baru bukan sekadar tempat untuk berfoto. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat yang mengajak kita diam sejenak, menarik napas panjang, dan menyadari bahwa keindahan itu tak selalu harus mewah. Cukup hadir dengan rasa syukur dan rasa hormat terhadap alam.
Sebagai warga Sumatera Barat, saya merasa bangga bahwa semangat menjaga dan mempromosikan keindahan lokal masih tumbuh, bahkan dari tangan-tangan sederhana. Panorama Baru adalah bukti nyata bahwa pariwisata tak selalu harus dimulai dari atas. Ia bisa berakar dari bawah—dari warga yang mencintai tanahnya, lalu mengajak orang lain ikut melihat dan menjaganya.
Penulis: Winda Nurchairani (Mahasiswa KPI UIN IB Padang)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar