Senin, 30 Juni 2025

Air Terjun Proklamator Tempat Wisata Alam yang Masih Terjaga

Sumbarescapes - Tak jauh dari jalan lintas Padang–Bukittinggi, tersembunyi sebuah permata alam yang belum banyak tersentuh, Air Terjun Proklamator. Lokasinya berada di wilayah Kanagarian Singgalang, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Bila berangkat dari Kota Padang, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 1,5 jam dalam kondisi lalu lintas lancar, dengan posisi air terjun di sebelah kiri jalan. 

Sementara dari Kota Padang Panjang, waktu tempuh hanya sekitar 30 menit, dan lokasinya berada di sebelah kanan jalan.

Namun perlu dicatat, jalur ini rawan padat, terutama saat akhir pekan atau libur panjang. Waktu keberangkatan yang tepat akan menentukan kenyamanan perjalanan.

Asal Usul Nama yang Sarat Makna

Air terjun ini ditemukan oleh mahasiswa Universitas Bung Hatta, tepatnya oleh UKM Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Proklamator, pada sekitar tahun 2016. Saat itu, mereka tengah mengadakan kegiatan pendidikan dasar sekaligus membuka jalur pendakian Gunung Tandikek via Mega Mendung. Dalam proses itu, mereka menemukan tiga air terjun, salah satunya adalah yang kini dikenal sebagai Air Terjun Proklamator. Nama “Proklamator” disematkan sebagai penghargaan sekaligus pengingat akan proses penemuan tersebut.

Barulah pada tahun 2020, destinasi ini mulai dibuka untuk umum dan perlahan dikenal sebagai tempat wisata alam yang menjanjikan di Sumatera Barat.

Trekking Menyusuri Jalur Alam

Untuk tiket masuk Rp10.000, pengunjung akan memulai perjalanan dengan trekking sejauh kurang lebih 30–45 menit. Jalurnya berupa jalan tanah setapak yang menurun dan menanjak, melalui hutan tropis yang sejuk namun licin di musim hujan. Di sepanjang jalur tersedia dua posko kecil: satu berada di awal jalur masuk, dan satu lagi di pertengahan perjalanan sebagai tempat istirahat.

Jalur ini cukup aman untuk pemula, asalkan menggunakan alas kaki yang sesuai dan membawa perbekalan pribadi.

Pesona yang Menyegarkan

Air terjun ini memiliki dua aliran utama yang jatuh dari tebing berketinggian 15–20 meter. Airnya bening, segar, dan bewarna biru. Kolam di bawahnya bisa dimanfaatkan untuk bermain air atau bersantai. Suasana sekitar benar-benar tenang, dengan pepohonan tinggi dan suara air yang menenangkan. Tempat ini cocok bagi mereka yang ingin melepaskan penat dari kesibukan kota.

Bawa Perbekalan Sendiri dan Jaga Etika Alam

Karena lokasi ini masih alami dan belum memiliki fasilitas lengkap, sebaiknya membawa bekal sendiri seperti air minum, makanan ringan, dan mungkin makan siang. Untuk keperluan buang air, penting untuk menjaga etika: permisi secara lisan, pilih tempat yang tidak mengganggu, dan jangan tinggalkan sampah.

Destinasi Sederhana dengan Daya Tarik Nyata

Air Terjun Proklamator bukan sekadar tempat berlibur, tapi pengalaman menyatu dengan alam yang sesungguhnya. Medan yang menantang tapi masih ramah, ditambah suasana yang tenang dan pemandangan air terjun yang masih alami, menjadikannya cocok bagi siapa saja yang ingin mencoba wisata alam tanpa harus jauh atau repot. Tempat ini memberi kesan tersendiri—bukan karena kemewahannya, tapi karena kesederhanaan dan ketulusannya sebagai bagian dari alam yang masih murni.

Penulis: Devita Rahma (Mahasiswa Prodi KPI)

Minggu, 29 Juni 2025

Panorama Baru Bukittinggi: Bukti Cinta Alam yang Tumbuh dari Akar

 


Warga Taman Wisata Panorama Baru di Bukittinggi, bukan sekadar ruang terbuka hijau. Ia adalah, napas segar dari sebuah kota yang selama ini dikenal lewat ikon-ikon besar seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, dan Lobang Jepang. Kehadiran di tengah dominasi pariwisata mainstream itu, Panorama Baru hadir sebagai alternatif yang lebih tenang, lebih alami, dan justru lebih membumi.

Dengan harga tiket masuk hanya Rp5.000, wisatawan bisa menikmati bentang alam menakjubkan: lekuk-lekuk Ngarai Sianok yang menganga megah. Gunung Singgalang yang berdiri gagah, serta kabut pagi yang perlahan-lahan naik seperti selimut putih yang menyapa Bukittinggi dari kejauhan. Sensasi ini sulit di dapat ketika berada di keramaian kota, tapi pada tempat yang bahkan dikelola secara swadaya oleh masyarakat lokal.

Untuk itu disinilah letak keistimewaannya. Panorama Baru adalah potret semangat warga yang ingin merawat dan membagikan keindahan kampung halamannya. Mereka tak menunggu dana besar atau investor luar. Mereka membuka jalan sendiri, menyediakan tempat duduk, menjaga kebersihan, hingga menghadirkan sentuhan budaya lokal seperti alunan saluang yang kadang terdengar menemani matahari terbenam.

Tentu, ada tantangan. Sebagai kawasan wisata baru, pengelolaannya masih jauh dari sempurna. Tempat parkir, toilet, bahkan papan informasi masih bisa dikembangkan lebih baik. Tapi justru di situ tantangannya: bagaimana mempertahankan keseimbangan antara kenyamanan pengunjung dan kelestarian alam. Jangan sampai, saat wisatawan membanjiri tempat ini, ketulusan dan kesederhanaannya justru luntur.

Panorama Baru bukan sekadar tempat untuk berfoto. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat yang mengajak kita diam sejenak, menarik napas panjang, dan menyadari bahwa keindahan itu tak selalu harus mewah. Cukup hadir dengan rasa syukur dan rasa hormat terhadap alam.

Sebagai warga Sumatera Barat, saya merasa bangga bahwa semangat menjaga dan mempromosikan keindahan lokal masih tumbuh, bahkan dari tangan-tangan sederhana. Panorama Baru adalah bukti nyata bahwa pariwisata tak selalu harus dimulai dari atas. Ia bisa berakar dari bawah—dari warga yang mencintai tanahnya, lalu mengajak orang lain ikut melihat dan menjaganya.

Penulis: Winda Nurchairani (Mahasiswa KPI UIN IB Padang)

Ketenangan dibawah hiruk pikuk Kehidupan Mahasiswa


Kasawan Wisata Sungai Bangek merupakan destinasi wisata yang berbasis sungai. Sesuai dengan nama yang diberikan lokasinya berada di kawasan hulu sungai bangek, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Sumatra Barat.

Untuk masuk wisata sungai ini hanya membayar lima ribu, sama parkir kita sudah bisa masuk sepuasnya dan sungai bangek menjadi destinasi baru bagi pencinta alam dan petualangan. 

Sungai bangek ini memiliki suasana yang sangat alami, dengan air yang jernih yang kehijauan. Bebatuan besar serta suasana yang tenang, nan jauh dari kebisingan dan senang untuk dinikmati. 

Menurut warga setempat, Sungai Bangek, dahulunya sering dikunjungi hanya penduduk lokal. Dengan adanya perpindahan kampus baru universitas UIN IB yang terletak di perbukitan Sungai Bangek banyak mahasiswa yang mengunjungi sungai-sungai yang ada disini, setelah mereka melaksanakan aktivitas perkuliahan. Tidak  hanya  mahasiswa saja namun banyak juga masyarakat sekitaran kota padang mengunjungi sungai bangek.

Salah satu pengunjung Diki menyampaikan bahwa wisata sungai bangek harus di lestarikan, agar kedepannya banyak masyarakat yang berkunjung tidak hanya mahasiswa saja namun, lanjutannya wisata sungai bangek ini harus dikunjungi oleh masyarakat di luar kota Padang karna tiket masuk wisata ini sangat murah.

Sungai bangek adalah salah satu bukti bahwa kota Padang tidak hanya mempunyai pantai yang indah,tapi juga mempunyai sungai yang indah untuk dinikmati oleh pengunjung.

Penulis : Hamdani ( Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam )

KEINDAHAN DAN KEHANGATAN MALAM DI BAWAH BAYANG JAM GADANG


Sumbarescapes- Jam Gadang bukan hanya sekadar menara jam, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan menjadi pusat aktivitas warga serta wisatawan. Jam Gadang sendiri dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1926, dan hingga kini tetap berdiri kokoh sebagai saksi sejarah panjang Kota Bukittinggi. Menara ini juga menjadi penanda waktu dan pusat orientasi kota, sehingga hampir semua orang yang berkunjung ke Bukittinggi pasti menyempatkan diri untuk berfoto atau sekadar menikmati keindahan Jam Gadang.

Pada malam hari, pencahayaan warna-warni yang menghiasi menara ini membuatnya tampak semakin menawan dan megah. Lampu-lampu yang dipasang di sekitar menara memberikan nuansa modern tanpa menghilangkan kesan tradisional. Ini adalah perpaduan yang sangat indah antara warisan budaya dan sentuhan teknologi masa kini.

Suasana malam hari di sekitar Jam Gadang terlihat sangat indah. Banyak orang berkumpul di alun-alun, baik itu keluarga, pasangan muda-mudi, maupun wisatawan dari luar daerah. Mereka tampak menikmati suasana malam, berbincang, bersantai, bahkan ada yang membeli balon atau jajanan dari pedagang kaki lima yang berjejer di sekitar area. Kehadiran keramaian ini menunjukkan bahwa Jam Gadang bukan hanya objek wisata, tetapi juga ruang publik yang sangat penting bagi masyarakat.

Bukan sekadar tempat untuk kunjungan semata, tapi sering menjadi titik kumpul masyarakat untuk berbagai kegiatan, mulai dari perayaan hari besar, pertunjukan seni, hingga aksi sosial. Lokasi di sekitar Jam Gadang, sering diadakan festival, bazar, dan acara kebudayaan yang melibatkan masyarakat lokal. Hal ini memperkuat rasa kebersamaan dan identitas sebagai orang Minangkabau.

Tidak bisa dipungkiri, Jam Gadang adalah magnet utama pariwisata di Bukittinggi. Setiap hari, terutama saat musim liburan, ribuan wisatawan datang untuk melihat dan berfoto di depan menara ini. Kehadiran wisatawan tentu membawa dampak positif bagi ekonomi lokal. Pedagang kaki lima, penjual makanan, penyedia jasa foto, dan pengrajin ole-ole, semuanya mendapatkan manfaat dari ramainya pengunjung dengan, suasana yang tampak aman dan nyaman. Penataan area publik yang baik, penerangan yang cukup, Jam Gadang ini tempat bersejarah yang tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat modern, tanpa kehilangan jati diri budayanya. Perpaduan antara keindahan arsitektur, suasana malam yang hidup, nilai sosial-budaya, serta manfaat ekonomi menjadi kekuatan utama kawasan ini.


Penulis: Masna Sari Siregar (Mahasiswa KPI UIN Imam Bonjol Padang)

Keindahan Tersembunyi di Ulu Gaduik, Kota Padang: Sarasah Gaduik Menjadi Destinasi Wisata Alam yang Memikat

 


Padang, Sumatera Barat — Di tengah perbukitan hijau dan udara sejuk kawasan Ulu Gaduik, Kota Padang, tersembunyi sebuah surga alam yang mulai mencuri perhatian para pecinta wisata alam, yakni Sarasah Gaduik. Air terjun yang masih alami ini menjadi salah satu destinasi eksotis yang kini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama di akhir pekan.

Sarasah Gaduik menawarkan pemandangan yang memikat mata: air terjun bertingkat yang mengalir deras dari celah-celah tebing batu, dikelilingi rimbunnya pepohonan dan suara alam yang menenangkan. Jarak tempuh menuju lokasi ini membutuhkan sedikit usaha fisik, karena pengunjung harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 1,5 kilometer melalui jalan setapak yang masih alami. Namun, semua lelah akan terbayar lunas saat sampai di lokasi.

Menurut keterangan warga setempat, Sarasah Gaduik telah lama dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat mandi dan bersantai, namun baru beberapa tahun belakangan mulai dikenal luas. Pemerintah Kota Padang pun mulai melirik potensi wisata alam ini untuk dikembangkan secara lebih serius dengan tetap menjaga kelestarian lingkungannya.

“Tempat ini masih alami dan belum banyak tersentuh modernisasi. Kami berharap tetap bisa mempertahankannya sebagai wisata berbasis alam tanpa merusak lingkungan,” ujar Rahmat, salah seorang pemuda Ulu Gaduik yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat.

Selain menawarkan pemandangan indah dan udara segar, Sarasah Gaduik juga menjadi tempat favorit untuk berfoto, berkemah, bahkan kegiatan edukasi lingkungan. Para pengunjung diimbau untuk tetap menjaga kebersihan dan tidak merusak ekosistem sekitar.

Dengan keindahan dan keasliannya, Sarasah Gaduik berpotensi menjadi salah satu ikon wisata baru di Kota Padang. Diharapkan, perhatian pemerintah dan kesadaran wisatawan dapat bersinergi dalam menjaga kelestarian alam yang menawan ini.


Penulis : Abdul Khalil Fajri ( Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam )

Nikel Menyusup di Surga Raja Ampat

Raja Ampat. Nama yang bergema bak syair keajaiban, merupakan gugusan pulau di Papua Barat Daya, penjaga harta karun alam yang tak ternilai. Lebih dari 75% spesies karang dunia, bersama ribuan spesies ikan, menari-nari dalam simfoni warna di bawah lautnya yang jernih. Keindahan Raja Ampat, yang telah diakui dunia sebagai destinasi wisata kelas dunia dan kawasan konservasi prioritas nasional, bukan hanya sekadar panorama; ia adalah jantung Segitiga Terumbu Karang, pusat keanekaragaman hayati yang krusial bagi keseimbangan ekosistem global. Namun, bayang-bayang gelap ketamakan manusia mulai menyelimuti surga ini. 

Proyek pertambangan nikel, didorong oleh permintaan global akan baterai kendaraan listrik, mengancam untuk menghancurkan keindahan ini secara perlahan namun pasti. Laporan-laporan dari berbagai lembaga lingkungan, seperti Greenpeace dan Auriga Nusantara, mengungkap bukti nyata kerusakan lingkungan yang telah terjadi: deforestasi lebih dari 500 hektar hutan, sedimentasi yang mengubur terumbu karang, dan pencemaran logam berat yang membahayakan biota laut dan kesehatan manusia. Kerugian ekonomi jangka panjang akibat kerusakan lingkungan ini jauh melampaui keuntungan sesaat dari pertambangan nikel. Nilai ekonomi pariwisata Raja Ampat, yang jauh lebih besar dan berkelanjutan, tampak diabaikan dalam perhitungan ekonomi yang sempit dan rakus.

Ketamakan Berbalut Dalih Pembangunan

Akar permasalahan ini adalah ketamakan yang berkedok pembangunan ekonomi. Upaya mengejar pertumbuhan ekonomi yang cepat dan serakah telah membutakan kita terhadap nilai sejati Raja Ampat. Permintaan global akan nikel telah menjadi pemantik utama ekspansi tambang, tanpa memperhitungkan konsekuensi jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat lokal. Kurangnya regulasi yang kuat, lemahnya penegakan hukum, dan transparansi yang minim dalam proses pengambilan keputusan semakin memperparah situasi. Prioritas yang salah ditempatkan: keuntungan ekonomi jangka pendek di atas keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah cerminan dari kegagalan sistem dalam menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian alam. Kegagalan dalam memahami bahwa keindahan Raja Ampat, sebagai aset global, jauh lebih berharga daripada nikel yang terpendam di bawahnya.

Dampak Devastasi yang Tak Terhindarkan

Bayangkan air laut yang jernih berubah menjadi keruh, terumbu karang yang berwarna-warni menjadi abu-abu dan mati. Itulah gambaran mengerikan yang ditimbulkan oleh pertambangan nikel di Raja Ampat. Logam berat yang mencemari perairan akan membunuh biota laut, merusak rantai makanan, dan menghancurkan ekosistem yang telah berjuta tahun terbentuk. Sedimentasi akan mengubur terumbu karang, habitat bagi ribuan spesies. Kerusakan mangrove, benteng alamiah pantai, akan memperparah abrasi dan mengancam kehidupan pesisir. Suara bising dari aktivitas penambangan akan mengganggu kehidupan satwa laut, khususnya mamalia laut yang sangat sensitif terhadap suara. Bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga hilangnya identitas budaya masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada laut. Pariwisata berkelanjutan, sumber penghidupan dan kebanggaan mereka, akan runtuh dan hancur. Pulau-pulau kecil seperti Gag, Kawe, dan Manuran, yang seharusnya dilindungi, justru menjadi sasaran eksploitasi. Bahkan Pulau Gag, yang berada di luar zona geopark, masih menjadi lokasi operasi tambang, menunjukkan betapa lemahnya penegakan hukum dan regulasi.

Memilih Antara Kehancuran dan Keberlanjutan

Raja Ampat bukanlah sekadar tempat wisata; ini adalah warisan dunia yang tak ternilai harganya. Keindahannya adalah aset global, bukan hanya milik Indonesia. Menghancurkannya demi keuntungan ekonomi jangka pendek adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak berkelanjutan. Kita harus berani berkata "tidak" pada proyek-proyek yang mengancam kelestarian lingkungan, dan memilih jalan pembangunan yang berkelanjutan. Pariwisata yang bijak, yang menghormati alam dan masyarakat lokal, adalah jalan yang jauh lebih baik dan berkelanjutan. Investasi dalam pariwisata berkelanjutan akan memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar dan berkelanjutan dibandingkan dengan tambang nikel yang merusak. Kita harus berani menolak ketamakan dan memilih kebijaksanaan.

Langkah Nyata untuk Melindungi Surga

Pemerintah harus segera menghentikan rencana tambang nikel di Raja Ampat. Kajian lingkungan hidup yang komprehensif dan transparan, melibatkan pakar internasional, harus dilakukan. Regulasi yang ketat dan penegakan hukum yang tegas harus diterapkan. Investasi besar-besaran dalam pariwisata berkelanjutan, yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal, harus dilakukan. Kerjasama internasional untuk melindungi Raja Ampat harus dijalin. Kita perlu mengubah paradigma pembangunan, mengutamakan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat jangka panjang. Pentingnya melibatkan masyarakat adat dan menghormati kearifan lokal, seperti sistem sasi laut, harus diprioritaskan.

Di Ujung Tanduk, Memilih Masa Depan Raja Ampat

Raja Ampat berada di ujung tanduk. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan nasibnya di masa depan. Kita harus memilih antara keuntungan ekonomi jangka pendek dan pelestarian warisan alam yang tak ternilai harganya. Mari kita prioritaskan keberlanjutan, lindungi Raja Ampat, dan wariskan keindahannya kepada generasi mendatang. Jangan biarkan ketamakan mengalahkan kebijaksanaan.

Bersatu untuk Melindungi Warisan Dunia

Suara kita adalah kekuatan. Mari kita bersatu, menolak proyek tambang nikel, mendukung pariwisata berkelanjutan, dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Lindungi Raja Ampat, lindungi warisan dunia kita. Selamatkan nirwana sebelum lenyap ditelan ketamakan. Mari kita jaga keindahan Raja Ampat untuk generasi mendatang. Jangan sampai keindahan ini hanya menjadi cerita dalam buku sejarah.

Penulis: Muhammad Ziqri Ramadhan (Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)

Anailand Wisata Alam di Kaki Gunung Tandikek

 


(Sumber foto: DempoAnailand.com)


Sumbarescapes- Memasuki musim libur akhir semester genap tahun 2025, menjadi momentum berharga untuk pelajar, mahasiswa maupun keluarga. Menepi sejenak dari rutinitas sehari-hari tentu penting dilakukan agar tubuh dan pikiran beristirahat. Untuk itu, sobat sumbarescapes bisa menghabiskan waktu dengan liburan sesuai preferensi pribadi maupun minat masing-masing.
Nah, kawasan rekreasi yang satu ini menjadi rekomendasi, karena dikenal menghadirkan tempat camping, penginapan yang identik dengan arsitektur rumah panggung modren, serta pemandian alami terbaik. Anailand, wisata alam menarik di lereng gunung Tandikek, puncak Anai berada di ketinggian 600-700 mdpl. Berlokasi di Jalan Padang - Bukittinggi Km. 60, Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. 

Puncak Anai merupakan suatu kawasan resort yang menggabungkan keindahan alami dan keindahan lokasi hasil karya manusia. Kehadiran taman-taman tertata asri dan rapi, serta hamparan padang rumput yang luas, sehingga menyejukkan mata yang memandang.




Selain menjadi objek wisata, Anai juga dipergunakan bagi masyarakat untuk daya tarik tersendiri, karna masih terjaga dan jauh dari kebisingan lalu lintas, menjadikan Puncak Anai sebagai lokasi wisata bergaya Eropa.

Hal ini dapat dilihat sepanjang jalan menuju lokasi Puncak Anai, rumah-rumah yang sebagian juga bergaya Kolonial dengan dikelilingi rumput hijau dan bunga-bunga tumbuh mekar seolah-olah berada di Eropa sungguhan. Rumah itu disuguhkan untuk para pengunjung yang menginap dan menikmati suasana alam Puncak Anai lebih lama. Penginapan yang diterapkan berbasis syari'ah, bisa mengajak keluarga serumah tentu harganya tidak melebihi kantong pengunjung, sebelum booking bisa hubungi pihak home stay terkait rumah dan kamar yang akan dijadikan tempat istirahat sesuai waktu kunjungan.

Menginap di villa dan cottage ini dengan  masing villa memiliki ruang kamar dengan ukuran bervariasi, tempat duduk, ruang makan, dapur, carport dan teras dengan pemandangan yang sangat indah di sekeliling villa. Tidak ada AC di sini karena, hawa di wilayah ini juga dingin dan sejuk, untuk malam bisa mencapai 16-18 derajat Celcius. Setiap kamar juga dilengkapi TV dan water heater. Ada berbagai type kamar yang disediakan kisaran harga dari Rp 800.000 sampai Rp 2.100.000 per type tergantung banyak kamar yang diambil di villa tersebut.

Sesuai dengan namanya Puncak, hawa yang sejuk langsung menyambut kita ketika memasuki gerbang utama, yang berada di sebelah kiri jalan dari arah Padang. Setiap perjalanan menuju penginapan harus  melewati 3 pos keamanan. Hal ini juga memperlihatkan bahwasanya keamanan dijaga dengan ketat, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Sekeliling Puncak Anai kita bisa menyaksikan hutan alam, di mana pohon-pohon alami masih tampak menjulang tinggi, dan masih termasuk kawasan cagar alam Lembah Anai.

Berbagai sarana yang disuguhkan membuat para pengunjung merasakan suasana yang tenang. Selain penginapan, adapun sarana yang lain diantaranya. Kolam renang alami dengan air asli pegunungan sekitar yang sangat dingin dan menyegarkan. Serta kolam berenang ini lantainya bebatuan alami. Membuat pengunjung bisa melakukan terapi berjalan diatasnya.

Kemudian bermain perahu karet di danau buatan atau yang lebih dikenal Sky Bike. Tepat di atas danau buatan itu per pasang wahana foto Sky bike dengan panjang bentangan kawat sekitar 30 meter. Spot gembok cinta. Mungkin fasilitas ini boleh dicoba atau sekedar membayangkan kita berada di Pont des Arts nya Paris. Lokasi ini sendiri berada di pinggiran kolam besar yang ada air mancurnya. Lalu, yang tak kalah menarik ada Camping Ground bagi pencinta wisata alam di sini juga menyediakan lokasi berkemah yang dapat menampung banyak tenda.

Tapi, jika ingin melakukan camping harus diperhatikan karena daerah ini daerah perbukitan, sehingga sering terjadi hujan, jadi sangat tidak disarankan traveler berkemah tanpa terpal hujan atau pastikan dulu dengan melihat  kondisi cuaca. Jika sobat sumbarescapes hanya ingin berenang dan berkeliling dilokasi Anailand saja tanpa menginap, sobat bisa masuk dengan karcis seharga 15.000/ orang.

Berbagai sarana yang di hadirkan dan kombinasi nuansa alam yang khas membuat pengunjung merasakan suasana yang tenang dan nyaman. Tak salah bila Anailand menjadi salah satu objek wisata yang ramai di kunjungi ketika weekend dan hari libur panjang semester. 

Penulis: Sofi Asri 


Senin, 23 Juni 2025

ROMANTISASI VILLA RUMAH KAYU, DENYUT NADI LUBUK MINTURUN

(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Sumbarescapes- Keindahannya yang dkelilingi oleh hijaunya pepohonan dan udara pegunungan yang sejuk, Villa Rumah Kayu. Berlokasi di kawasan perbukitan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, dan berjarak sekitar 30 menit dari kota Padang. Villa ini menjadi magnet baru bagi wisatawan yang mendambakan ketenangan dan keindahan alam. Resmi dibuka pada Januari 2024 lalu, Villa Rumah Kayu ini seketika menyita perhatian publik, lantaran dalam beberapa bulan terakhir jumlah wisatawan meningkat secara signifikan, terutama pada akhir pekan dan libur panjang. 

Villa Rumah Kayu, merupakan sebuah penginapan bernuansa tradisional yang di dominasi dari bahan material kayu alami. Selain sebagai destinasi wisata yang menarik, villa ini juga berfungsi sebagai tempat beristirahat, liburan akhir pekan bersama keluarga, hingga pelaksanaan kegiatan outbound sekolah. Villa Rumah Kayu ini di nobatkan sebagai salah satu villa terbaik yang ada di Kota Padang. Hal ini tak lepas dari desainnya yang unik serta suasana tempat yang sejuk dan asri menambah kesan ingin berlama-lama berada disana. Banyak wisatawan memilih tempat ini karena, ingin menikmati suasana alam yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Terletak di kawasan perbukitan Lubuk. Lokasinya berdekatan dengan objek wisata seperti Air Terjun Lubuk Hitam dan Pemandian Lubuk Minturun. Villa ini dikelola baik oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang bekerja sama dengan masyarakat setempat dan didukung oleh Dinas Pariwisata Kota Padang, serta melibatkan UMKM lokal dalam penyediaan makanan dan kerajinan.


Tak hanya menjadi tempat penginapan, villa Rumah Kayu, juga dapat menjadi wadah pengembangan karakter siswa ketika hendak melakukan kegiatan outbound sekolah. SMAIT Dar el-Iman Padang misalnya. Sekolah ini mengadakan acara "Rihlah Bersama" di villa Rumah Kayu pada Selasa, (17/6/2025). Acara ini dihadiri puluhan siswi kelas 10 dan 11 yang didampingi langsung oleh dua guru wali kelas perempuan. Rangkaian acara terdiri dari explore villa, games seru, mengadakan halaqah Al-Qur'an, hingga membakar jagung pada malam puncak acara. Seluruh aktivitas dilakukan dengan baik dan terstruktur. Salah satu alasan mengapa tempat ini menjadi tempat pilihan pihak sekolah, yakni karena tempat yang strategis dan tidak begitu jauh dari pusat kota. Sehingga, aman untuk melakukan kegiatan outbound, menimbang kami semua perempuan dan tidak diperkenankan untuk mengadakan acara di luar Kota Padang. Selain itu, suasana yang sejuk dan damai membuat kesan nyaman dari pertama kali kami datang, " tutur guru yang mengampu mata pelajaran Biologi di SMAIT Dar el-Iman ini. 


Villa Rumah Kayu Lubuk Minturun, menjanjikan pesona alam yang romantis dan tentunya indah bagi wisatawan yang berkunjung. "Saya sekeluarga suka sekali dengan tempat ini. Karena suasananya tenang, cocok untuk melepas penat dari pekerjaan. Desain villa cantik, semuanya terbuat dari kayu, dan terasa adem walau tanpa AC. Saya dan anak-anak juga suka duduk di balkon sambil minum teh di pagi hari." ujar Rina (34) selaku salah satu wisatawan Villa Rumah Kayu, Lubuk Minturun. Ia juga menambahkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk mengabadikan foto, sebab pemandangannya indah dan Instagramable. Dengan demikian,  meromantisasi dentingan alam di Nadi Lubuk Minturun ini adalah momen khas untuk menciptakan kenangan yang tak terlupakan dan memperkuat ikatan emosional yang ada. 


Penulis: Erlin Eliora Garini, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Imam Bonjol Padang

Redaktur: Sofi Asri

Minggu, 15 Juni 2025

Denting Alam dalam Sajak Minang

Oleh: Erlin Eliora Garini ( Mahasiswa Semester 6 KPI)

Di sudut bibir pantai, ombak bersyair lirih

Menyampaikan salam dari samudera ke pepohonan 

Langit membentang biru bagaikan sajadah do'a 

Angin menyulam nyanyian di sela daun pandan yang bersahaja

Bukit-bukit menjelma sebagai perisai Memeluk pantai yang tenang dalam lengkung senja 

Di sela karang, rahasia laut bersembunyi Ada kehidupan yang tumbuh dalam hening yang abadi

Pulau-pulau kecil bagai serpih surga yang tersebar Pagang, Pasumpahan, hingga Mandeh memeluk dalam lembutnya teluk Di perairan jernih, perahu nelayan melukis garis takdir 

Dengan dayung yang tak sekadar mencari nafkah,Tetapi juga merawat pusaka dari arus yang terus berubah

Anak-anak berlarian di pasir yang hangat oleh matahari 

Setiap tawa menari di antara bayang cemara dan suara camar

 Sementara para ibu menjemur hasil laut di hamparan karung goni 

Serta doa-doa dilayarkan lewat mata yang bersinar penuh harap,

Kepada laut yang tak pernah menolak pulang

Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat

Engkau bukan hanya nama di dalam ukiran peta

 Engkau adalah puisi panjang yang ditulis alam dengan penuh cinta 

Dalam setiap karang, pasir, dan ombak yang setia 

Terpatri sejarah, adat, dan jiwa Minang yang tak pernah reda 

Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat

Pun engkau bukan sekadar tanah dan udara 

Tetapi napas jiwa, lukisan hangat yang hidup dalam setiap nadi anak rimba

Pesonamu abadi, tanah leluhur takkan terlupa

Di setiap sudut surgawi, indahnya sepanjang masa 

Oh, Ranah Minang, engkau bak puisi tak bertepi 

Sajak-sajakmu ditulis rapi di atas batu dan hati

Selamanya engkau harum dalam sanubari

Minggu, 01 Juni 2025

Pasar Kuliner Padang Panjang, Potensi Wisata Rasa Nasional



Sumber foto: Infopublik.id

Sumatera Barat tak hanya dikenal lewat pesona alam dan budayanya yang memikat, tetapi juga melalui ragam kuliner yang kaya akan cita rasa. Salah satu destinasi yang mencerminkan kekayaan rasa ini adalah Pasar Kuliner Padang Panjang, yang perlahan tapi pasti mulai menarik perhatian para pencinta kuliner, baik dari dalam maupun luar daerah.

Berlokasi di Lapangan Kantin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Balai-Balai, Kota Padang Panjang, tempat ini merupakan salah satu proyek kolaborasi antara Pemerintah Kota dan para pelaku UMKM. Daya tarik pasar kuliner ini bukan hanya pada keragaman menu, tetapi juga suasana yang hidup dan ramah. Dengan kapasitas menampung lebih dari 100 UMKM, pasar ini menjadi wadah ekonomi kreatif yang sangat potensial.

Jam operasionalnya dimulai sejak sore hingga dini hari, menjadikan pasar ini sebagai pusat keramaian di malam hari. Ini tentu menguntungkan wisatawan yang telah menghabiskan harinya menjelajah alam Sumatera Barat dan ingin bersantai sambil menikmati kuliner hangat dan lezat.

Berbagai jenis makanan tersedia di sini. Mulai dari makanan berat seperti nasi padang, soto padang, bakso, mie ayam, sate padang, hingga jajanan ringan seperti roti tenong—yang menjadi salah satu ikon pasar ini. Roti tenong adalah roti goreng yang disajikan dengan telur, lalu dilumuri cokelat dan susu kental manis. Tambahan topping pun bisa dipesan sesuai selera, menjadikannya kuliner favorit bagi pengunjung dari berbagai kalangan.

Minuman hangat seperti bandrek, sekoteng, teh talua, dan kopi sangat cocok dinikmati ketika berkunjung ke negri dingin Padang Panjang. Namun bagi yang menginginkan kesegaran, tersedia pula jus, es jeruk, es teh, es krim, hingga minuman kekinian lainnya.

Meskipun potensinya besar, pasar kuliner ini masih menghadapi tantangan yang perlu segera diatasi. Dari segi promosi, belum banyak wisatawan luar daerah yang mengetahui keberadaan pasar ini. Pemerintah daerah bersama pelaku UMKM perlu lebih giat memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti area parkir, kebersihan, dan fasilitas umum juga harus terus ditingkatkan demi kenyamanan pengunjung.

Dengan kekayaan kuliner dan dukungan masyarakatnya, Padang Panjang memiliki modal kuat untuk menjadikan pasar kulinernya sebagai ikon wisata gastronomi Sumatera Barat. Pengelolaan yang profesional dan promosi yang tepat akan membawa pasar kuliner ini ke panggung nasional, bahkan internasional.


Penulis     : Silvi Amelia

Redaktur : Sofi Asri 

Minggu, 18 Mei 2025

Pantai Padang: Wisata Renungan Mahasiswa yang Jauh di Rantau



Ditengah riuhnya kota Padang, terhampar sebuah tempat yang tak hanya menyuguhkan keindahan alam, namun juga menghadirkan ruang batin untuk merenung dan menata kembali tujuan hidup. Pantai Padang, atau yang lebih akrab disebut Taplau oleh masyarakat local singkatan dari Tapi Lauik (pinggir laut) menjadi pelipur lara bagi banyak perantau, khususnya mahasiswa yang jauh dari kampung halaman.

Letaknya yang strategis di pusat kota menjadikan Taplau mudah dijangkau dari mana saja. Hanya butuh sekitar 10 hingga 15 menit berkendara dari berbagai kampus ternama di Padang seperti Universitas Andalas, UIN Imam Bonjol, maupun Universitas Negeri Padang. Maka tak heran, setiap sore hingga senja, Taplau seakan menjelma menjadi ruang publik yang dihuni oleh berbagai latar belakang manusia terutama mereka yang datang bukan sekadar untuk rekreasi, tapi juga untuk menenangkan pikiran.

Senja, Laut, dan Doa-doa yang Dilepaskan. Taplau tidak hanya menawarkan semilir angin laut atau hamparan pasir keemasan. Pantai ini punya magnet yang lebih dalam: suasana senja yang menyentuh relung hati. Langit yang berubah warna dari jingga ke ungu seolah memberi ruang bagi siapa pun untuk berkontemplasi. Bagi para mahasiswa perantau, ini bukan sekadar pemandangan alam, melainkan pengalaman spiritual. Di sanalah, banyak yang duduk diam menatap horizon, mengirimkan doa untuk orang tua di kampung, atau sekadar menata ulang semangat yang sempat mengendur oleh tumpukan tugas dan tekanan hidup di rantau.

“Menyendiri di Taplau di waktu senja adalah obat paling ampuh untuk rindu dan lelah,” ujar Afif (21), mahasiswa asal Riau yang tengah menempuh semester akhir di Padang. “Kadang, saya datang sendiri, duduk di batu karang sambil mendengarkan debur ombak. Rasanya seperti sedang berbicara dengan diri sendiri.”

Masjid Al-Hakim: Mahakarya Iman di Bibir Laut

Satu lagi yang mempertegas Taplau sebagai tempat perenungan spiritual adalah berdirinya masjid megah nan indah di tepi pantai: Masjid Al-Hakim. Dengan arsitektur modern bercita rasa Timur Tengah dan nuansa lokal Minang, masjid ini menjulang anggun di sisi utara Taplau, menghadap langsung ke lautan lepas. Keberadaannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi simbol keteduhan rohani di tengah dunia yang hiruk pikuk.

Banyak mahasiswa yang menyempatkan diri untuk singgah, sekadar berwudu dan duduk tenang di beranda masjid, menikmati angin laut sambil menanti azan magrib berkumandang. Di sore hari, Masjid Al-Hakim menjelma menjadi tempat terbaik untuk melarutkan diri dalam dzikir dan refleksi. Renungan demi renungan lahir dari suara ombak yang berpadu dengan lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid.

“Masjid Al-Hakim itu seperti rumah untuk jiwa saya. Seringkali saya datang ke sana ketika hati sedang goyah atau rindu rumah. Suasana tenangnya sangat membantu saya menemukan arah kembali,” ucap Rahmad, mahasiswa asal Medan.

Pemandangan orang-orang berdoa di halaman masjid, dengan latar langit senja dan suara ombak memecah batu karang, menjadikan Taplau lebih dari sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang batin yang hidup.

Ragam Aktivitas dan Kuliner Pinggir Laut

Taplau juga menghadirkan kehidupan yang dinamis. Saat pagi hari, pantai ini menjadi arena olahraga: jogging, bersepeda, hingga yoga di bawah pohon kelapa yang rindang. Sementara saat malam menjelang, aroma sate laut, jagung bakar, dan kerupuk kuah pical mulai menyebar di sepanjang bibir pantai. Para pedagang lokal yang ramah menciptakan suasana hangat yang mengingatkan akan pasar malam di kampung halaman.

Ruang Ekspresi dan Seni Mahasiswa

Tidak sedikit komunitas seni dan budaya mahasiswa yang memanfaatkan Taplau sebagai panggung alam. Pertunjukan puisi, musik akustik, hingga pementasan teater mini kerap menghiasi akhir pekan. Dengan latar Masjid Al-Hakim yang bersinar lembut saat malam dan suara debur ombak yang konsisten, suasana artistik itu terasa magis.




Taplau, Jejak Renungan di Tanah Rantau

Meski hanya pantai biasa, Taplau mengukir kesan luar biasa dalam hati para perantau muda. Setiap tawa, air mata, bahkan keputusan penting dalam hidup, banyak yang dimulai atau diakhiri di sini. “Saya pertama kali berani mengambil keputusan untuk lanjut S2 di Taplau. Waktu itu saya sendirian, hanya membawa buku dan air mineral. Tapi entah kenapa, suasana pantai membuat pikiran saya jernih,” ungkap Taufik, alumni Universitas Negeri Padang.

Kini, Taplau bukan hanya tentang pasir dan laut. Ia adalah saksi dari perjalanan banyak mahasiswa yang sedang tumbuh, bertarung dengan kerinduan, dan menemukan jati diri. Apalagi dengan berdirinya Masjid Al-Hakim yang menyempurnakan suasana religius, Taplau menjadi seperti pesantren terbuka: tanpa dinding, tapi penuh pelajaran.

Menjaga yang Bermakna

Jika Taplau dan Masjid Al-Hakim telah memberi begitu banyak ketenangan bagi perantau, sudah sepatutnya kita menjaga keduanya. Pantai yang bersih dan lingkungan yang rapi adalah cermin penghormatan kita terhadap ruang-ruang yang pernah menyembuhkan dan memperkuat jiwa.

Dan kelak, saat masa studi usai dan para mahasiswa kembali ke kampung halaman, akan ada satu jejak yang tak pernah hilang dari ingatan: sebuah senja di Taplau, ditemani suara azan dari Masjid Al-Hakim, dan renungan yang menjelma menjadi kekuatan untuk terus melangkah.


Penulis: Kafarizal ( Mahasiswa Prodi KPI, UIN Imam Bonjol Padang 

Redaktur: Sofi Asri 


Nagari Pariangan Desa Terindah di Kaki Gunung Marapi, Tanah Datar, Sumatera Barat

Nagari Pariangan adalah desa adat yang terkenal sebagai salah satu desa terindah di dunia versi majalah Travel Budget. Tempat ini menyuguhkan arsitektur rumah gadang khas Minangkabau, surau-surau tua, dan sawah hijau yang menyejukkan mata. Terletak di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Berjarak ±13 km dari kota Batusangkar, dan hanya 1 km dari lokasi penunjuk jalan seperti pada gambar.

Waktu terbaik berkunjung adalah hari libur atau akhir pekan, agar bisa menikmati suasana desa dengan tenang dan menyeluruh, terutama pagi atau sore hari saat cuaca sejuk dan langit cerah. Hal ini dikarenakan, Nagari Pariangan tidak hanya indah secara visual, tapi juga kaya nilai budaya dan sejarah Minangkabau. Cocok untuk wisata budaya, edukasi, dan fotografi oleh pecinta budaya, wisatawan domestik maupun mancanegara, pelajar, hingga keluarga yang ingin healing dari hiruk pikuk kota. Lokasi ini dapat diakses dengan kendaraan pribadi maupun umum dari Padang atau Bukittinggi. Akses jalan baik, dan suasana pedesaan langsung terasa begitu mendekati wilayah nagari. Hawa sejuk, dingin, dan tenang, karena berada di lereng Gunung Marapi. Udaranya bersih, cocok untuk melepas penat dan mengisi ulang energi. Deretan rumah gadang autentik dan masih dihuni warga lokal.
Lanskap sawah bertingkat dan aliran air jernih menambah kesan damai. Bisa belajar langsung tentang adat Minangkabau dan kehidupan nagari. Serasa kembali ke masa lalu, tapi tetap hangat oleh keramahan warga. Jangan lupa siapkan kamera dan jaket ringan—karena di Pariangan, kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama.


#NagariPariangan#DesaTerindah #TanahDatar#ExploreSumbar #WisataBudaya #Minangkabauheritage

Penulis: Syaibul Karim 

Danau Ateh Alahan Panjang- Swiss nya Indonesia



Danau Di Atas adalah salah satu destinasi wisata alam paling memukau di Sumatera Barat, menawarkan panorama danau yang tenang dikelilingi perbukitan hijau dan pepohonan cemara. Berlokasi di Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tepat di jantung dataran tinggi Bukit Barisan. Untuk para wisatawan waktu terbaik berkunjung adalah saat weekend, khususnya pagi hingga sore hari saat udara masih segar dan kabut tipis menyelimuti danau. Karena tempat ini dijuluki “kota dingin tanpa salju” atau Swiss-nya Indonesia, cocok untuk relaksasi, berfoto, hingga menikmati suasana alam yang menyejukkan pikiran.

Cocok untuk semua kalangan—keluarga, pasangan, traveler solo, maupun komunitas fotografi. Lokasi ini bisa dicapai dengan kendaraan pribadi dari Kota Padang sekitar 2–3 jam perjalanan. Akses jalan sudah baik, dan sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan kebun teh dan pegunungan. Dengan kondisi alam yang mendukung ini, membuat udara segar tanpa AC, view danau dan gunung dalam satu frame, cocok buat foto estetik. Suasana hening dan tenang, sebagai relaksasi melepas penat dari hiruk pikuk kota.


Yuk, jelajahi keindahan alam negeri sendiri dan abadikan momenmu di Danau Di Atas, Alahan Panjang! 📸🌿

#sumbarescapes#DanauDiAtas #AlahanPanjang#WisataSumbar #SwissIndonesia #ExploreMinang


Penulis: Syaibul Karim

Senin, 05 Mei 2025

Jejak Kasih Tak Sampai





(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Jembatan Siti Nurbaya, begitu nama yang disematkan untuk bangunan yang sudah ada sejak tahun 1995 silam, membentang di atas sungai Batang Arau. Jembatan ini menghubungkan pusat kota dengan seberang Padang. Mengambil nama dari novel klasik Indonesia, "Siti Nurbaya" karya penulis terkenal Marah Rusli, mengenai kasih tak sampai; jembatan ini sangat gemilang di malam hari. Lampu-lampu yang menghiasi tepi jembatan menambah keindahan malam. Pantulan sinar lampu di permukaan Sungai Batang Arau, ditambah perahu nelayan yang lalu lalang menciptakan suasana romantis.

Tak heran, Jembatan Sitti Nurbaya menjadi salah satu titik favorit untuk menikmati pemandangan senja atau sekadar bersantai.

Selain nilai sastra, kawasan sekitar jembatan juga menyimpan jejak sejarah kota, seperti bangunan kolonial Belanda, pelabuhan tua, dan makam yang dipercaya sebagai makam Siti Nurbaya di Bukit Gunung Padang. Keberadaan jembatan ini tak hanya memperlancar akses transportasi, tapi juga menjadi simbol romantisme dan daya tarik budaya di kota Padang.

Pemerintah daerah terus berupaya merawat dan mempercantik kawasan ini agar tetap menjadi magnet pariwisata, baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.


Penulis: Hamdani (Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam)

Minggu, 04 Mei 2025

GOA KELELAWAR PADAYO : SURGA TERSEMBUNYI DI TENGAH PERBUKITAN KOTA PADANG


(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Goa Kelelawar Padayo terletak di Indarung, Kota Padang, merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik dan menyimpan banyak potensi. Berada di daerah perbukitan Indarung, goa ini menawarkan pengalaman yang unik bagi para pengunjung yang ingin menjelajahi keindahan alam dan keunikan ekosistem gua. Goa Kelelawar Padayo memiliki panjang sekitar 560 Meter, menjadikannya sebagai salah satu goa yang cukup panjang untuk dieksplorasi. Pengunjung dapat menikmati keindahan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun, menciptakan pemandangan yang menakjubkan.


Suasana di dalam goa yang sejuk dan gelap memberikan pengalaman yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan namanya, goa ini juga menjadi habitat bagi kelelawar. Keberadaan kelelawar di dalam goa tidak hanya menambah daya tarik, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang ekosistem gua. Kelelawar berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, dan pengunjung dapat menyaksikan langsung bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.


Saat ini, Goa Kelelawar Padayo dikelola oleh kelompok masyarakat sadar wisata yang dikenal dengan nama Pokdarwis Padayo. Kelompok ini aktif berperan dalam mengelola dan mengembangkan potensi wisata di kawasan tersebut. Pengelolaan dilakukan secara profesional dengan pembinaan langsung dari Dinas Pariwisata Kota Padang. Kehadiran Pokdarwis Padayo memberikan dampak positif terhadap pengelolaan wisata yang berkelanjutan.


Melalui sinergi ini, keberadaan goa tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat. Untuk dapat menikmati keindahan dan keunikan Goa Kelelawar Padayo. Lalu, pengunjung dikenakan biaya masuk yang relatif terjangkau. Harga tiket masuk sebesar Rp 10.000 per orang sudah termasuk biaya parkir kendaraan pengunjung. Tarif tersebut dirancang supaya wisatawan lokal maupun mancanegara mudah mengakses lokasi ini. Pendapatan dari biaya tiket ini digunakan untuk pemeliharaan fasilitas dan pengembangan infrastruktur di sekitar goa. 


Selain itu, dana tersebut juga mendukung aktivitas pelestarian lingkungan dan konservasi ekosistem kelelawar. Hal ini menegaskan komitmen pengelola dalam menjaga kelestarian alam dan kenyamanan pengunjung.

Meskipun memiliki potensi yang besar, Goa Kelelawar Padayo masih menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam hal fasilitas. Saat ini, fasilitas yang ada masih jauh dari sempurna, dan perlu adanya perbaikan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Pengembangan infrastruktur seperti jalur akses, area parkir, dan fasilitas pendukung lainnya sangat penting untuk menarik lebih banyak pengunjung.


Pengalaman yang ditawarkan oleh Goa Kelelawar Padayo tidak hanya terbatas pada eksplorasi gua. Pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam sekitar, seperti pemandangan perbukitan dan hutan yang asri. Aktivitas seperti trekking, di sekitar goa dapat menjadi tambahan yang menarik bagi wisatawan yang menyukai petualangan.

Dengan menawarkan berbagai aktivitas, pengunjung akan memiliki pengalaman yang lebih berkesan dan beragam. 


Pengembangan pariwisata di Goa Kelelawar Padayo, penting untuk mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Pengelolaan yang baik harus dilakukan untuk memastikan bahwa aktivitas wisata tidak merusak ekosistem gua. Misalnya, pembatasan jumlah pengunjung dalam satu waktu dapat membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Kemudian, penggunaan bahan ramah lingkungan dalam pembangunan fasilitas juga harus menjadi prioritas.


Penulis: Winda Nurchairani 

(Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam)

Keindahan Pantai Gandoriah Pariaman

 



(Sumber : Dokumentasi RRI.co.id)

Sumbarescapes- Gandoriah adalah salah satu pantai yang terletak di daerah Pariaman, memiliki keindahan ombak dan nuansa pantai yang indah. Hal ini yang membuatnya selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama dihari libur, Jum'aat (02/05).

Rahmi selaku warga lokal mengatakan, setiap libur pantai selalu dipadati oleh masyarakat lokal maupun luar daerah Pariaman. "Setiap libur selalu ramai," katanya.

Ia menambahkan, para wisatawan yang berkunjung, biasanya lebih banyak di jam tiga sore ke bawah. "Pantai Gandoriah cocok untuk menikmati keindahan sunset ," tambahnya.

Selain itu, pekarangan pantai yang luas, banyak diisi oleh para pedagang. Berbagai makanan berjajar untuk memanjakan lidah pengunjung yang datang. "Banyak jualan yang bisa dinikmati," tutur Rahmi.


Ia berharap, semoga keindahan pantai bisa dilestarikan, sehingga  banyak  pengunjung yang datang untuk berwisata. "Ini akan meningkatkan perekonomian masyarakat," harapnya.

Sementara itu, Masna salah seorang pengunjung menjelaskan, pantai Gandoriah sangat indah, apalagi di sore hari. Senjanya yang indah serta jajanan yang menggugah selera. 

Selanjutnya, ia mengungkapkan, bahwa Gandoriah menjadi tempat bersantai yang pas, karena tempatnya strategis dekat dengan stasiun kereta api dan pasar. "Tempanya startegis," ucapnya.

Semoga kedepannya banyak inovasi baru disekitar area pantai, sehingga makin menarik perhatian wisatawan. "Makin kreatif lagi kedepannya," tutupnya.


Wartawan: Tri Putri Sari

Redaktur: Sofi Asri 

NUANSA ALAM BIRU: MANJUTO PESONA BUMI SUMATERA BARAT

NUANSA ALAM BIRU: MANJUTO PESONA BUMI SUMATERA BARAT


(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Sumbar Escapes - Indonesia dikenal dengan pesona keindahan alamnya yang menakjubkan dan memiliki sejuta tempat destinasi yang memukau, salah satu destinasi tersebut berada di Sumatera Barat. Terletak di pesisir barat, pantai ini menjadi salah satu destinasi alam terindah di Sumatera Barat. Pantai Manjuto menyimpan seribu keindahan didalamnya, membuat para wisatawan dari lokal hingga mancanegara ikut tergiur mengagumi keindahannya. 


Pantai yang terletak di Tarusan kabupaten Pesisir Selatan ini, memiliki nuansa pasir putih dan halus disepanjang bibir pantai. Tidak hanya itu, air yang begitu jernih dan panorama dibawah laut mampu terlihat dengan jelas oleh mata meskipun dari kejauhan. Deretan pohon kelapa berjajar rapi di sekitar pantai, menjadikan suasana pantai Manjuto semakin sejuk dan asri dari matahari terbit hingga terbenam kembali.


Keindahan pantai ini sejatinya tidak dapat tertandingi, sebab bagaikan surga yang tersembunyi. Bagaimana tidak, pantai Manjuto bukan hanya sekadar pantai, tetapi juga menyediakan penginapan (homestay) dengan fasilitas dan biaya yang terjangkau. Selain itu, di area depan homestay terdapat gazebo-gazebo kecil yang menambah kesan unik ketika hendak bersantai. Dengan demikian, membuat pengunjung rela berlama-lama untuk menikmati sunset di sore hari sambil duduk santai di gazebo yang telah tersedia. 


Berbagai fasilitas yang telah disediakan di pantai ini, yaitu penginapan yang minimalis, warung makan yang cukup memadai, hingga penyewaan alat renang seperti pelampung, banana boat, snorkeling dan sebagainya. Sehingga para pengunjung dapat menikmati liburan dengan nyaman dan bahagia.


Selain itu, pada ujung tepi pantai, terdapat ayunan yang terbuat dari kayu yang sengaja disediakan untuk para pengunjung mengabadikan momen dengan berfoto. Dengan demikian, terciptalah kesan yang baik bagi siapa saja yang mengunjungi salah satu pesona bumi Sumatera Barat ini. 


Pantai Manjuto, menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dijelajahi. Keindahan alamnya yang sudah tidak diragukan lagi, terutama ketika pengunjung hendak menikmati momentum matahari terbenam, pantai ini menyuguhkan pemandangan warna langit yang luar biasa indah untuk disaksikan. Sehingga menyajikan suasana yang hangat dan penuh ketenangan. Dengan berbagai pesona yang ada, pantai ini menjadi tempat wisata yang pas untuk keluarga. Begitulah kira-kira ujung dari pesona alam pantai Manjuto. Tidak hanya sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai pengetahuan bahwasanya ternyata pesona bumi Sumatera Barat terjaga baik dibalik tembok pantai Manjuto. 




Penulis: Erlin Eliora Garini

(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)

Minggu, 27 April 2025

Pacuan Kuda Bukit Ambacang Kota Bukittinggi, Wisata Seru untuk Keluarga

          (Sumber foto: Devita Rahma)

Sumbarescapes- Pacuan Kuda Bukit Ambacang diKota Bukittinggi menjadi salah satu destinasi wisata favorit, terutama saat musim libur. Setiap hari, puluhan kuda terlihat memukau arena, siap memberikan pengalaman menarik bagi para pengunjung.

Pengunjung dapat mencoba naik ke punggung kuda dengan tarif yang cukup terjangkau, mulai dari Rp25.000 hingga Rp 40.000 untuk satu kali keliling arena. Biasanya, kapasitas satu kuda dapat menampung dua orang, dengan pendampingan langsung dari pemilik kuda yang berjalan bersama mengelilingi lapangan.

Waktu aktivitas kuda di arena biasanya berlangsung pada pagi dan sore hari. Pada saat itulah suasana terasa lebih sejuk, sehingga banyak keluarga memilih waktu ini untuk menikmati liburan.

Selain pengalaman naik kuda, kawasan Pacuan Kuda Bukit Ambacang juga dilengkapi dengan berbagai pilihan jajanan, seperti gorengan, jagung bakar, dan aneka minuman segar, yang menambah kenyamanan wisata.

Setiap tahun, tempat ini juga menjadi tuan rumah acara Pacu Kuda daerah, yang mempertemukan para joki dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Event ini selalu berhasil menarik perhatian banyak pengunjung berkat atmosfer kompetisi yang meriah dan penuh semangat.

Wisata Pacuan Kuda Bukit Ambacang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menghadirkan suasana akrab dan hangat, menjadikannya pilihan ideal untuk rekreasi keluarga di Bukittinggi.


Wartawan: Devita Rahma (Mahasiswa Prodi KPI)

Redaktur: Sofi Asri 

Minggu, 20 April 2025

Menelusuri Keindahan dan Sejarah di PDIKM Museum Bustanil Arifin

Sumbarescape- Minangkabau menyimpan pesona yang tak lekang oleh waktu, alamnya yang elok berpadu dengan budaya yang kaya, menjadikan tanah Minang sebagai salah satu daerah yang memiliki sejarah dan budaya yang kuat. 

Pusat Dokumentasi dan Informasi KebudayaanMinangkabau(PDIKM), yang terletak di Kelurahan Silaiang Bawah, Kecamatan Padang Panjang barat, Kota Padang Panjang, salah satu bukti yang merekam sejarah adat Minangkabau.

Saksi bisu kejayaan dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau yang ada di PDIKM yaitu Museum Bustanil Arifin. Ruang yang merekam jejak sejarah, adat dan perjuangan ekonomi masyarakat Minang. PDIKM, lembaga yang mendedikasi untuk melestarikan, mempromosikan, dan mempelajari budaya Minangkabau melalui artefak, dokumentasi sejarah dan fasilitas modern, serta pakaian adat.

Museum Bustanul Arifin yang berbentuk Rumah Gadang ini menyimpan lebih dari tiga ribu dokumen dan artefak yang berkaitan dengan Minangkabau. Termasuk foto foto sejarah dan alat musik tradisional.

Selain tempat objek wisata sejarah, PDIKM juga berfungsi sebagai pusat edukasi, pelestarian budaya melalui pameran festival, lomba, dan pelatihan budaya Minangkabau. Tempat ini juga memiliki fasilitas penunjang, seperti gazebo, mushala, toilet, taman, dan toko souvenir untuk pengunjung yang datang.

Pengunjung juga dapat menyewa pakaian adat untuk berfoto di lantai dasar Rumah Gadang. Harga tiket masuk bervariasi, Rp.5.000 untuk anak-anak, Rp.10.000 untuk dewasa, dan Rp. 25.000 untuk mancanegara. Wisata ini menjadi daya tarik bagi wisatawan berkunjung untuk mengenal adat dan budaya Minangkabau.


Siska Maharani (Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Imam Bonjol Padang)

SumbarEscapes " Pelarian yang Membawa Anda pada Keindahan Sumatra Barat"




 Latar Belakang Berdirinya Blog SumbarEscape

      Sumatera Barat merupakan provinsi yang kaya akan pesona alam, keunikan budaya, serta tradisi yang masih terjaga hingga kini. Dari hamparan sawah yang membentang hijau, deretan pegunungan yang memukau, hingga kehidupan masyarakat Minangkabau yang sarat nilai-nilai luhur. Sumbar menyimpan begitu banyak cerita yang layak untuk dibagikan ke dunia. Namun sayangnya, tidak semua keindahan itu terekspos secara optimal, terutama di kalangan generasi muda dan wisatawan domestik yang lebih akrab dengan destinasi mainstream di luar provinsi.

    Melihat hal tersebut, blog "SumbarEscape" hadir sebagai ruang digital yang didedikasikan untuk mengenalkan kekayaan wisata dan budaya Sumatera Barat melalui sudut pandang yang lebih segar, kreatif, dan mudah diakses.

    Filosofi di balik berdirinya blog ini adalah semangat untuk "melarikan diri" (escape) dari rutinitas sehari-hari, sambil menemukan kembali keindahan lokal yang sering kali terlewatkan.

    Menjadi jembatan informasi untuk  membantu siapa pun yang ingin mengenal, menjelajah, dan  menikmati keindahan alam serta budaya di Sumatera Barat. 

    Kami percaya bahwa dengan sentuhan narasi yang kuat, visual yang menarik, dan informasi yang akurat, Sumbar dapat menjadi destinasi utama yang tak hanya dinikmati, tapi juga dicintai. Blog ini tidak hanya menjadi media dokumentasi perjalanan, tapi juga bentuk kontribusi nyata dalam mempromosikan potensi lokal, membangun kesadaran budaya, dan mendorong pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

    Blog ini bukan hanya sekadar catatan perjalanan, tapi juga menjadi sumber berita, panduan, serta rekomendasi terpercaya bagi para calon wisatawan yang ingin merencanakan perjalanan ke Sumbar.

     Melalui pendekatan digital yang informatif, kreatif, dan menyenangkan, "SumbarEscape" berkomitmen untuk memperkenalkan keindahan dan keunikan Sumbar kepada khalayak luas agar setiap orang yang berkunjung tidak hanya menikmati keindahannya, tetapi juga memahami nilai-nilai dan cerita yang ada di baliknya.

Pesona Silokek: Surga Tersembunyi di Jantung Sumatera Barat

Di tengah hamparan bumi Minangkabau yang kaya akan keindahan alam, tersembunyi sebuah permata yang belum banyak tersentuh: Silokek. Terletak di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, kawasan ini menawarkan panorama memukau yang menggabungkan keajaiban geologis, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya dalam satu kesatuan harmonis. Sebagai kawasan yang kini menyandang status Geopark Nasional, Silokek layak mendapatkan perhatian lebih sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia.

Silokek mempersembahkan pemandangan alam yang menakjubkan dengan formasi geologisnya yang unik. Deretan pegunungan karst yang menjulang dengan tebing-tebing curam menciptakan siluet dramatis di cakrawala. Batuan purba berusia jutaan tahun menyimpan jejak evolusi bumi, menjadikan kawasan ini sebagai buku sejarah geologi yang hidup.

Fenomena alam yang paling mencolok adalah Grand Canyon Silokek, sebuah lembah spektakuler yang dibelah oleh aliran Sungai Batang Kuantan (juga dikenal sebagai Sungai Ombilin). Tebing-tebing terjal dengan lapisan batuan berwarna-warni menawarkan pemandangan megah yang tak kalah dengan Grand Canyon di Amerika Serikat. Air sungai yang jernih mengalir di dasar lembah, menciptakan kontras menawan dengan tebing batuan yang kokoh.

Gua-gua karst di Silokek juga menawarkan pesona tersendiri. Gua Ngalau Cigak dengan stalagtit dan stalagmitnya yang menakjubkan, Gua Ngalau Kampung dengan aliran air bawah tanah yang misterius, serta beberapa gua lainnya menawarkan petualangan eksplorasi yang mendebarkan sekaligus mendidik. Formasi batu kapur yang telah terbentuk selama ribuan tahun menciptakan arsitektur alam yang memesona.

Silokek bukan hanya tentang keindahan geologis, tetapi juga surga bagi keanekaragaman hayati. Hutan hujan tropis yang menyelimuti kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna, beberapa di antaranya endemik dan langka.

Pepohonan raksasa dengan akar-akar yang kokoh menciptakan kanopi hijau yang rimbun, menjadi habitat bagi berbagai jenis burung dan primata. Suara kicauan burung dan gesekan daun yang tertiup angin menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Di sepanjang tepian Sungai Batang Kuantan, dapat ditemui berbagai jenis ikan air tawar yang berkilauan di bawah sinar matahari yang menembus permukaan air.

Keunikan ekosistem Silokek juga tercermin dari keberadaan beberapa spesies langka seperti siamang, macan dahan, dan beruang madu yang masih bisa ditemui di kawasan ini. Keberadaan satwa-satwa ini menjadi indikator bahwa ekosistem Silokek masih relatif terjaga dan memerlukan upaya konservasi yang serius.

Air menjadi elemen penting yang memperkaya keindahan Silokek. Sungai Batang Kuantan yang membelah lembah tidak hanya menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga menawarkan atraksi wisata yang mendebarkan. Arung jeram melalui aliran sungai yang jernih, diapit oleh tebing-tebing megah, memberikan pengalaman petualangan yang sulit dilupakan.

Beberapa air terjun tersembunyi di kawasan Silokek menambah daftar keindahan alamnya. Air Terjun Sarasah Aia Angek, dengan airnya yang hangat secara alami karena mengandung mineral tertentu, menawarkan sensasi mandi yang unik. Sementara itu, Air Terjun Sarasah Tanggo dengan ketinggian sekitar 30 meter menciptakan tirai air yang memukau, dikelilingi oleh vegetasi hijau yang rimbun.

Mata air panas alami juga dapat ditemukan di beberapa titik di kawasan Silokek. Air yang kaya akan mineral ini dipercaya memiliki khasiat terapeutik, menjadikannya tempat favorit untuk relaksasi sambil menikmati keindahan alam sekitar.

Keindahan alam Silokek semakin lengkap dengan adanya warisan budaya masyarakat lokal yang kaya. Komunitas adat yang telah bermukim di kawasan ini selama berabad-abad memiliki tradisi dan kearifan lokal yang hidup berdampingan dengan alam. Rumah gadang dengan arsitektur khasnya, serta perkampungan tradisional yang masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal, menjadi daya tarik budaya yang melengkapi pesona alam.

Festival tradisional dan upacara adat yang masih rutin diselenggarakan oleh masyarakat setempat memberi kesempatan bagi pengunjung untuk menyelami kekayaan budaya Minangkabau. Kesenian tradisional seperti randai, saluang, dan tari piring turut mewarnai kehidupan masyarakat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kawasan ini.

Di balik keindahan memukau yang ditawarkan, Silokek menghadapi tantangan pelestarian yang tidak ringan. Aktivitas penambangan liar, penebangan hutan, dan pembangunan yang tidak terkendali bisa mengancam keutuhan ekosistem dan nilai geologis kawasan ini. Sebagai kawasan Geopark Nasional yang tengah diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark, Silokek memerlukan strategi konservasi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Pengembangan pariwisata di Silokek harus dilakukan dengan prinsip ekowisata yang menekankan pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Infrastruktur wisata perlu dibangun dengan memperhatikan daya dukung lingkungan, sementara edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya menjaga kelestarian alam harus menjadi bagian integral dari pengalaman wisata di kawasan ini.

Dengan keindahan alam yang dimilikinya, Silokek memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi ekowisata unggulan Indonesia. Status Geopark Nasional yang disandangnya harus menjadi momentum untuk mengembangkan kawasan ini dengan pendekatan yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, dan pelaku usaha pariwisata diperlukan untuk memastikan bahwa keindahan Silokek dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Sebagai kawasan yang menyimpan keajaiban geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang kaya, Silokek tidak hanya penting bagi Sumatera Barat, tetapi juga bagi Indonesia dan dunia. Menjaga keindahan alamnya adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan komitmen dan tindakan nyata dari semua pihak.

Silokek adalah bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, yang jika dijaga dan dikembangkan dengan bijak, dapat menjadi kebanggaan nasional dan warisan dunia. Mari kita lestarikan keindahan Silokek untuk anak cucu kita, agar mereka juga dapat menyaksikan dan mengagumi keajaiban alam yang telah tercipta selama jutaan tahun ini.


Penulis: Abdul Khalil Fajri ( Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)