Minggu, 15 Juni 2025

Denting Alam dalam Sajak Minang

Oleh: Erlin Eliora Garini ( Mahasiswa Semester 6 KPI)

Di sudut bibir pantai, ombak bersyair lirih

Menyampaikan salam dari samudera ke pepohonan 

Langit membentang biru bagaikan sajadah do'a 

Angin menyulam nyanyian di sela daun pandan yang bersahaja

Bukit-bukit menjelma sebagai perisai Memeluk pantai yang tenang dalam lengkung senja 

Di sela karang, rahasia laut bersembunyi Ada kehidupan yang tumbuh dalam hening yang abadi

Pulau-pulau kecil bagai serpih surga yang tersebar Pagang, Pasumpahan, hingga Mandeh memeluk dalam lembutnya teluk Di perairan jernih, perahu nelayan melukis garis takdir 

Dengan dayung yang tak sekadar mencari nafkah,Tetapi juga merawat pusaka dari arus yang terus berubah

Anak-anak berlarian di pasir yang hangat oleh matahari 

Setiap tawa menari di antara bayang cemara dan suara camar

 Sementara para ibu menjemur hasil laut di hamparan karung goni 

Serta doa-doa dilayarkan lewat mata yang bersinar penuh harap,

Kepada laut yang tak pernah menolak pulang

Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat

Engkau bukan hanya nama di dalam ukiran peta

 Engkau adalah puisi panjang yang ditulis alam dengan penuh cinta 

Dalam setiap karang, pasir, dan ombak yang setia 

Terpatri sejarah, adat, dan jiwa Minang yang tak pernah reda 

Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat

Pun engkau bukan sekadar tanah dan udara 

Tetapi napas jiwa, lukisan hangat yang hidup dalam setiap nadi anak rimba

Pesonamu abadi, tanah leluhur takkan terlupa

Di setiap sudut surgawi, indahnya sepanjang masa 

Oh, Ranah Minang, engkau bak puisi tak bertepi 

Sajak-sajakmu ditulis rapi di atas batu dan hati

Selamanya engkau harum dalam sanubari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar